Gempa Bertubi di Ekonomi Nasional

Oleh: Dr. Harris Turino, S.T., S.H., M.Si., M.M. - Kapoksi PDI Perjuangan Komisi XI DPR RI
Senin, 09 Maret 2026 11:31 WIB Jurnalis - Heru Guntoro

Jakarta, Gesuri.id - Ekonomi sering kali tidak runtuh karena angka-angka yang memburuk, tetapi karena kepercayaan yang mulai retak. Ketika pasar mulai meragukan arah kebijakan dan publik mulai cemas terhadap masa depan, maka fondasi ekonomi sebenarnya sudah mulai bergeser. Gejala itu tampaknya sedang kita hadapi hari-hari ini.

Ekonomi Indonesia memang sedang tidak baik-baik saja. Serangkaian peringatan datang bertubi-tubi seperti gempa yang belum sempat reda tetapi sudah disusul guncangan berikutnya. Belum sepenuhnya pulih dari early warning MSCI yang sempat membuat bursa saham rontok dan berujung pada pergantian tiga petinggi OJK, kini tekanan baru datang dari lembaga pemeringkat global.

Moodys merilis perubahan outlook surat utang Indonesia dari stabil menjadi negatif. Memang benar bahwa rating jangka panjangnya masih bertahan pada level Baa yang masih berada dalam kategori investment grade. Namun perubahan outlook ini bukan sekadar catatan teknis dalam laporan lembaga pemeringkat. Ini adalah peringatan bahwa risiko ekonomi Indonesia dinilai meningkat. Situasi seperti ini menuntut respons cepat, akurat, dan komprehensif, bukan sekadar penyangkalan atau pembelaan diri.

Belum selesai dengan Moodys, lembaga pemeringkat lain yaitu Fitch juga mengambil langkah serupa. Outlook ekonomi Indonesia untuk jangka pendek dan menengah diturunkan dari stabil menjadi negatif, walaupun ratingnya masih dipertahankan di level BBB yang juga masih berada dalam kategori investment grade. Dua sinyal kehati-hatian dari lembaga pemeringkat global dalam waktu berdekatan tentu bukan sekadar kebetulan.

Baca:GanjarPranowo Tekankan Pentingnya Kritik

Baca juga :