Jakarta, Gesuri.id - Dalam hidup setiap manusia, selalu ada satu kata yang tak pernah netral: ibu. Ia bukan sekadar sebutan biologis, melainkan ruang pertama tempat kehidupan belajar bernapas.
Dari rahim ibu, manusia mengenal rasa sebelum logika, mengenal makna sebelum bahasa. Dari dekapan ibu, kita belajar arti bertahan ketika dunia belum ramah, mengalah saat ego mulai tumbuh, dan mencintai tanpa perlu alasan.
Ibu adalah sumber, mata air yang mengalir tanpa menagih balasan. Ia menumbuhkan tanpa meminta kembali, menguatkan tanpa menunggu tepuk tangan. Dalam diamnya, ibu bekerja seperti akar yang tak terlihat namun menahan seluruh batang agar tidak tumbang. Dalam sabarnya, ia menjaga arah ketika dunia sibuk berlari tanpa peta.
Tak mengherankan jika peradaban kemudian meminjam kata ibu untuk menamai hal-hal yang paling mendasar. Kita menyebut Ibu Pertiwi, bukan bapak pertiwi. Kita mengenal Ibu Kota, bukan bapak kota. Bahasa, dengan kejernihan nalurinya, tahu betul bahwa yang melahirkan, merawat, dan menjaga keberlanjutan adalah ibu.