Jakarta, Gesuri.id - Adasatu pemandangan yang selalu berulang setiap Iduladha. Di sudut kampung, anak-anak berdiri membawa kantong plastik. Wajah mereka berbinar. Orang-orang berkumpul. Pisau diasah. Takbir menggema. Bau rumput, tanah, dan hewan kurban bercampur menjadi aroma yang hanya datang setahun sekali. Lalu daging dibagikan. Selesai.
Sering kali kurban berhenti di sana. Sebatas seremoni tahunan. Sebatas ritual yang datang lalu pergi. Padahal mungkin kita perlu bertanya ulang apakah kurban hanya tentang membagikan daging? Ataukah sesungguhnya ia sedang mengajari manusia cara mengelola kepedulian?
Tahun ini muncul gagasan yang menarik perhatian publik. Presiden Prabowo Subianto meminta agar daging dam jamaah haji Indonesia yang dikelola di Arab Saudi dapat disalurkan untuk warga Palestina, khususnya Gaza yang menghadapi krisis kemanusiaan berkepanjangan.
Gagasan itu sederhana, tapi maknanya besar. Ibadah tidak berhenti pada altar spiritual. Ia bergerak menjadi jalan kemanusiaan. Namun di titik inilah muncul pertanyaan yang lebih dekat dengan rumah kita sendiri.
Jika daging dam bisa melintasi batas negara menuju Gaza, mungkinkah pengelolaan kurban dan dam juga dirancang lebih strategis untuk menjawab persoalan sosial di Indonesia?