Jakarta, Gesuri.id - PENCARIAN identitas kebudayaan Indonesia merupakan perjalanan panjang yang dinamis dan tak pernah benar-benar selesai. Sejak awal abad 20, saat wujud Indonesia masih berada pada tahap pembentukan, sejumlah pemikir kebudayaan dan seniman terus bergulat merumuskan jawaban atas pertanyaan: bagaimana seharusnya bangsa yang baru lahir ini memosisikan akar tradisinya di tengah gelombang modernitas global?
Polemik itu dimulai pada Agustus 1935 saat majalah Poedjangga Baroe menerbitkan artikel Menuju Masyarakat dan Kebudayaan Baru: Indonesia prae Indonesia karya Sutan Takdir Alisjahbana (STA). Dalam tulisannya ia mengajak pembaca mengarahkan kiblat kebudayaan ke Barat sebagai sumber pengetahuan sekaligus inspirasi kemajuan hidup.
Menurutnya Indonesia adalah semesta kesadaran baru yang harus memandang ke depan menyongsong kebudayaan baru yang maju, dinamis dan berorientasi Barat. Sebagai konsekuensi logis dari pilihan itu maka fantasi keagungan masa lalu era Majapahit dan Sriwijaya yang beku dan statis yang tak menawarkan apapun kecuali romantisme harus lekas ditinggalkan.
Sanusi Pane menampik ajakan itu. Menurutnya, menghamba pada Barat sama artinya menjadikan diri Faustian pengikut Faust yang memuja kekuasaan, pengetahuan dan keuntungan materi tiada peduli nilai spiritual dan moral jadi korbannya. Rasionalitas barat menyisakan jiwa kering-kerontang yang melahirkan kolonialisme dan imperialisme belaka.
Berbeda dari karakter Faust dalam lakon karya Goethe itu, Sanusi menggambarkan Arjuna sebagai pengejawantahan makhluk rohaniah Timur yang berperasaan halus dan menyandarkan diri pada spiritualitas. Alih-alih menyerahkan diri secara total kepada Barat, Sanusi menawarkan haluan baru yang sempurna dengan menyatukan Faust dengan Arjuna seraya mengajukan isi dan bentuk kebudayaan Indonesia sebagai kesinambungan masa lalu dengan masa kini yang dialektis.