Jakarta, Gesuri.id - Saya sering berpikir, mengapa sebuah proyek yang sejak awal disebut strategis justru berjalan tertatih. Pertanyaan itu kembali muncul setiap kali saya mendengar kabar tentang Pelabuhan Ujung Jabung di Jambi. Pelabuhan yang sejak lama digadang-gadang sebagai pintu masuk baru ekonomi daerah, namun hingga hari ini belum benar-benar menunjukkan denyut kehidupan yang dijanjikan.
Sebagai wakil rakyat dari Jambi, saya tidak melihat proyek ini semata dari sudut pandang kebijakan atau angka anggaran. Saya melihatnya dari wajah para nelayan, pelaku usaha kecil, petani, dan masyarakat pesisir yang bertanya dengan nada sama dari tahun ke tahun: kapan pelabuhan itu benar-benar berfungsi?
Pelabuhan Ujung Jabung bukan sekadar bangunan fisik. Ia adalah simbol harapan. Harapan agar Jambi tidak terus-menerus bergantung pada pelabuhan di provinsi lain. Harapan agar biaya logistik bisa ditekan. Harapan agar hasil bumi Jambi tidak kalah sebelum sampai ke pasar yang lebih luas.
Saya ingat betul ketika isu percepatan Pelabuhan Ujung Jabung saya sampaikan langsung dalam rapat bersama Menteri Perhubungan. Bukan untuk sekadar bicara keras, tetapi untuk mengingatkan bahwa negara sudah terlalu lama berjanji pada masyarakat Jambi. Janji yang belum sepenuhnya ditepati.
Dalam logika pembangunan nasional, pelabuhan ini sangat masuk akal. Letaknya strategis, berhadapan langsung dengan jalur pelayaran internasional. Ia bisa menjadi simpul logistik bagi Jambi, bahkan Sumatera bagian tengah. Maka wajar jika masyarakat bertanya: kalau secara logika masuk, mengapa realisasinya lambat?