Rokhmin Dahuri: Global Warming dan Banjir Bandang di Hari Tanpa Hujan

Oleh: Rokhmin Dahuri, Guru Besar IPB University Bogor/Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PDI Perjuangan.
Rabu, 09 September 2026 10:00 WIB Jurnalis - Syahrul Arsyad

Jakarta, Gesuri.id - Bencana yang datang tanpa hujan sejatinya adalah peringatan paling jujur dari alam: bahwa yang mencair di puncak gunung, cepat atau lambat, akan mengalir ke lembah tempat manusia hidup.

Pada 26 Agustus 2026, dunia menyaksikan salah satu bencana paling mengerikan dari jantung Pegunungan Himalaya. Bukan hujan deras yang memicunya, melainkan runtuhnya massa es raksasa di dekat Langtang Lirung, di perbatasan Nepal dan Tibet.

Longsoran es dan batu itu memicu getaran seismik setara gempa berkekuatan magnitudo 5,2, sebelum berubah menjadi banjir bandang yang menyapu Lembah Trishuli sepanjang lebih dari 70 kilometer, meratakan desa-desa, memutus jembatan utama yang menghubungkan Nepal dengan China, dan bahkan menghanyutkan jasad korban hingga ratusan kilometer ke wilayah India.

Angka korban terus bertambah seiring proses pencarian yang sulit. Sampai 6 September lalu, ribuan orang dilaporkan tewas, dan ribuan lainnyatermasuk banyak wisatawan asingmasih dinyatakan hilang di Nepal maupun di wilayah Tibet, China.

Tim penyelamat kesulitan menjangkau lokasi karena jalan dan jembatan turut hancur, sementara lumpur yang bercampur air bergerak dengan kecepatan tinggi digambarkan para penyintas bagaikan beton cair yang tak mungkin dihindari dengan berlari.

Baca juga :