Gelombang Maut di Eropa: Pemanasan Global atau Semburan Kosmis?

Oleh: Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri MS, Anggota Komisi IV DPR RI/Guru Besar Fakultas Kelautan dan Perikanan IPB University.
Kamis, 24 September 2026 10:00 WIB Jurnalis - Ananda Okctaviani

Jakarta, Gesuri.id - Eropa, benua yang selama berabad-abad identik dengan cuaca sejuk, musim dingin yang bersalju, dan musim panas yang nyaman, kini sedang mengalami transformasi iklim yang mengerikan.

Dalam beberapa tahun terakhir, kita dikejutkan oleh pemandangan yang seharusnya mustahil: sungai-sungai utama seperti Rhine (yang mengalir dari Swis hingga Belanda) dan Po (sungai terpanjang di Itali) mengering hingga dasarnya retak. Salju di Pegunungan Alpen mencair dengan kecepatan yang mengkhawatirkan. Dan yang paling menyedihkan, ribuan warga Eropa tewas setiap tahunnya akibat gelombang panas (heatwave) yang makin ekstrem dari tahun ke tahun.

Data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan berbagai lembaga klimatologi mencatat angka kematian yang sangat mencengangkan.

Gelombang panas tahun 2003 menewaskan lebih dari 70.000 orang. Pada tahun 2022, sebuah studi komprehensif yang diterbitkan dalam jurnal Nature Medicine memperkirakan lebih dari 61.000 kematian terkait panas terjadi di Eropa selama musim panas, dengan mayoritas korban adalah perempuan lansia.

Bulan Juli-Agustus 2026 lalu, suhu Benua Biru makin menyengat, hingga mencapai 44,3 derajat Selsius. Jalur kereta api di Leipzig dan Nuremberg, Jerman sampai melengkung dan sambungan relnya mencair. Korban tewas sampai akhir Agustus tercatat mencapai 1300 orang lebih.

Baca juga :