Jakarta, Gesuri.id - Di atas kertas, Republik Argentina adalah tanah impian bagi kedaulatan pangan. Negara dengan luas wilayah 1,5 kali Indonesia berpenduduk 46 juta jiwa ini, secara alamiah mestinya menjadi lumbung pangan global.
Hamparan padang rumput Pampas yang sangat luas melegitimasi posisinya sebagai produsen utama gandum, jagung, hingga daging sapi kualitas tinggi dunia. Namun, sejarah mencatat ironi yang sadis: Argentina terjerembap ke dalam krisis pangan yang akut.
Ini adalah paradoks yang nyata dan menyakitkan Negeri Tango. Kelangkaan bahan pokok sempat merajalela. Antrean rakyat memanjang demi sepotong roti. Harga pangan meroket, menyulut instabilitas politik hebat -- meruntuhkan rezim demi rezim.
Akar dari segala krisis ini bukan pada alamnya yang ingkar janji. Melainkan pada kanker korupsi yang sistemis serta struktur birokrasi yang gemuk, lamban, dan manja.
Dari tanah Negeri Ronaldo ini, dunia membaca manusia dan alam butuh kerja sama positif. Bahwa berkah alam sebaik apa pun, secemerlang apa pun, tak ada gunanya bila tidak dikelola dengan baik dan kreatif oleh manusia.