Jakarta, Gesuri.id - Pengamat Sosial sekaligus Anggota Bidang Budaya Badan Riset dan Analisis Kebijakan (BARAK) Pusat PDI Perjuangan, Hizkia Darmayana, menilai penghancuran minimarket oleh sekelompok massa yang mengklaim diri sebagai pengikut ulama di Pamekasan, Madura, Jawa Timur, tidak semata-mata dapat dipandang sebagai persoalan ketertiban umum.
Peristiwa tersebut juga perlu dibaca dalam perspektif sosiologis dan ekonomi politik, yakni sebagai manifestasi pertarungan kepentingan ekonomi antara kelompok sosial tradisionalis dan ekspansi kapitalisme modern.
Menurut Hizkia, kemunculan konflik semacam ini dapat berkaitan dengan ketegangan antara struktur ekonomi masyarakat lokal yang bertumpu pada usaha kecil, jaringan perdagangan tradisional, dan otoritas sosial-keagamaan, dengan penetrasi modal modern melalui jaringan ritel yang memiliki kapasitas ekonomi dan daya saing lebih besar.
Penghancuran minimarket di Pamekasan harus kita baca lebih jauh daripada sekadar tindakan massa yang merusak properti. Ada persoalan ekonomi politik yang perlu diperiksa secara serius, yaitu ketegangan antara struktur ekonomi tradisional masyarakat dengan ekspansi kapitalisme modern, tegas Hizkia, Jumat (9/10/2026).
Ia menjelaskan, dalam masyarakat yang kehidupan ekonominya masih ditopang oleh pedagang kecil, pasar tradisional, dan jaringan usaha berbasis komunitas, kehadiran ritel modern berpotensi memunculkan persaingan yang tidak seimbang. Ketika persoalan tersebut tidak dikelola melalui kebijakan yang adil, ketegangan ekonomi dapat berkembang menjadi konflik sosial.