Jakarta, Gesuri.id -Konsultan dan Perencana Keuangan, Elvi Diana, meminta pemerintah dan otoritas terkait segera memitigasi dampak pertumbuhan penyaluran kredit masyarakat yang melaju lebih cepat dibandingkan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) atau tabungan masyarakat di perbankan.
Menurut Elvi, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian serius karena selisih pertumbuhan kredit dan DPK dapat menimbulkan ketimpangan likuiditas di industri perbankan apabila dana yang tersedia tidak terdistribusi secara merata antarbank.
Sebelumnya, Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengungkapkan pertumbuhan kredit perbankan pada Juli 2026 mencapai sekitar 13,6 persen secara tahunan (yoy). Sementara itu, pertumbuhan DPK pada periode yang sama tercatat sebesar 11,21 persen. Dengan demikian, terdapat selisih sekitar 2,4 poin persentase antara pertumbuhan kredit dan pertumbuhan DPK.
Pemerintah harus melihat persoalan ini bukan hanya dari sisi pertumbuhan kredit, tetapi juga dari sisi sumber pendanaannya. Ketika kredit tumbuh lebih cepat daripada DPK, harus dipastikan bahwa kondisi tersebut tidak menciptakan ketimpangan likuiditas antarbank, ujar Elvi, Minggu (6/9/2026).
Elvi menilai pertumbuhan kredit yang tinggi pada dasarnya merupakan sinyal positif bagi aktivitas ekonomi karena menunjukkan meningkatnya intermediasi perbankan. Namun, pertumbuhan tersebut harus diimbangi dengan pengelolaan likuiditas yang hati-hati agar tidak menimbulkan tekanan pada bank-bank yang memiliki pertumbuhan DPK lebih rendah.