Jakarta, Gesuri.id Anggota DPR RI Komisi VII Novita Hardini, menegaskan bahwa industri film Indonesia tengah berada di persimpangan antara momentum kejayaan dan ancaman struktural yang dibiarkan tanpa Solusi dari negara. Hal itu Ia sampaikan saat RDP Panja Kreativitas dan Distribusi Film Nasional bersama eselon I Kemenekraf di komplek parlemen senayan, Senin (2/2/2026).
Perempuan yang berperan sebagai Fatimah di film Buya Hamka itu mengakui film Indonesia selama ini terbukti efektif mempromosikan pariwisata dan identitas daerah. Berbagai karya seperti Laskar Pelangi, Ada Apa Dengan Cinta, 5cm, hingga Petualangan Sherina menjadi bukti kuat bahwa film adalah instrumen strategis diplomasi budaya dan ekonomi kreatif.
Namun di balik capaian tersebut, legislator perempuan satu-satunya dari Dapil 7 Jawa Timur itu mengingatkan adanya kebocoran ekonomi serius yang belum ditutup negara. Persoalan klasik seperti distribusi, keterbatasan layar, dan permodalan masih menghantui, diperparah dengan ancaman baru dari penggunaan kecerdasan buatan (AI) yang justru berpotensi mempersempit lapangan kerja pelaku kreatif.
AI jangan dipoles sebagai inovasi, jika faktanya menggerus ruang hidup pekerja kreatif kita. Negara tidak boleh abai terhadap ancaman ini, tegasnya.
Selain itu, Ia juga menyoroti buruknya sistem pengarsipan film nasional. Menurutnya, negara gagal menjaga memori kolektif bangsa. Dari sekitar 4.400 film yang diproduksi sejak 1926 hingga 2025, sekitar 1.500 film dilaporkan hilang karena belum direstorasi dan tidak diarsipkan dengan baik.