Politik Itu Berteman!, Haul ke-13 Alm. H. Taufiq Kiemas, 8 Juni

Oleh: Mahmuddin Muslim, Alumni HMI, Pengurus Pusat Baitul Muslimin Indonesia (PP-BAMUSI) PDI Perjuangan.
Senin, 08 Juni 2026 14:50 WIB Jurnalis - Effatha Gloria V.G. Tamburian

Jakarta, Gesuri.id - Mengenal sosok TaufiqKiemas, tidak bisa di lepaskan dari tradisi keilmuan dan keislaman yang di bangub dalam keluarga beliau. TaufiqKiemas dilahirkan dan di besarkan dalam tradisi Masyumi yang berasaskan Islam. Pada masa itu, Islam dan Nasionalisme seakan-akan sedang berhadap-hadapan. Tak heran, perdebatan dan pandangan politik ketika itu berlangsung sengit dan keras.

Pelbagai argumentasi dan rujukan keilmuan di adu dalam rapat-rapat atau sidang-sidang di konstituante. Menariknya dari pelbagai perdebatan dan perbedaan pandangan politik yang panas tersebut, selalu berakhir penuh rasa persaudaraan, saling menghormati dan menghargai perbedaan. Dalam situasi politik yang demikian TaufiqKiemas lahir dan dibesarkan.

Memasuki bangku perkuliahan, TaufiqKiemas, bergabung dengan GMNI, yang ketika itu dianggap sebagai kelompok Bung Karno yang secara pandangan politik adalah lawan partai orang tuanya, Masyumi.

Di sinilah sosok TaufiqKiemas menjadi menarik. Sejak pra kemerdekaan, orde lama, orde baru bahkan mungkin sampai saat ini, Islamisme selalu di perhadap-hadapkan dengan Nasionalisme, TaufiqKiemas sejak muda, justru meleburkan diri dalam dikotomi tersebut.

Ketika banyak orang berdebat masalah pluralisme di Indonesia, suami Hj. Megawati Soekarnoputri ini telah melakukan eksperimen pluralisme itu sendiri. Ketika orang sibuk mengkaji tentang Keindonesiaan dan Keislaman, Taufiqkiemas justru melakukannya.

Baca juga :