PADA suatu masa, merah bukan sekadar warna keberanian. Ia menjadi simbol keberanian membayangkan Indonesia jauh sebelum kemerdekaan.
Tahun 1928, anak-anak muda berkumpul di Batavia membawa kegelisahan. Mereka datang dari organisasi berbeda, tetapi mulai mencari tujuan bersama.
Di antara generasi muda itu, ada nama Soekarno yang menarik diperhatikan. Ia memang tidak duduk sebagai peserta Kongres Pemuda II. Namun gagasan persatuannya sudah bergerak sebelum kongres berlangsung.
Soekarno ketika itu masih berusia 27 tahun dan berkiprah di Bandung. Pada 4 Juli 1927, ia mendirikan Partai Nasional Indonesia atau PNI. Partai tersebut membawa cita-cita Indonesia merdeka sebagai tujuan perjuangan. Setahun sebelum Sumpah Pemuda, Soekarno sudah berbicara tentang persatuan.
Ia melihat perjuangan akan sulit jika berjalan sendiri-sendiri. Nasionalis, Islam, dan kelompok lainnya perlu menemukan titik temu. Gagasannya itu pernah ia tuangkan melalui tulisan dan forum pergerakan. Bagi Soekarno, persatuan bukan sekadar slogan politik.