Sugondo, Yamin, dan Jalan Panjang Menuju Persatuan

Indonesia tidak cukup hanya diwarisi sebagai sebuah nama. Indonesia harus terus dirawat melalui gagasan dan tindakan bersama.
Sabtu, 17 Oktober 2026 18:48 WIB Jurnalis - Nurfahmi Budi Prasetyo

Pada Oktober 1928, Batavia menjadi ruang pertemuan gagasan. Anak-anak muda datang membawa identitas, organisasi, dan kegelisahan masing-masing.

Mereka belum memiliki negara bernama Indonesia sebagai kenyataan politik. Namun, mereka mulai membayangkan Indonesia sebagai rumah bersama.

Kongres Pemuda II bukan pertemuan tanpa perbedaan. Pesertanya datang dari berbagai organisasi dengan latar berbeda. Ada Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Bataks Bond, Jong Celebes, dan lainnya.

PPPI menjadi penggagas kongres yang mempertemukan berbagai kelompok tersebut. Museum Sumpah Pemuda
Di tengah keragaman itu, Soegondo Djojopoespito mendapat posisi penting. Ia dipercaya menjadi ketua kongres dari PPPI. Pilihan itu seperti menempatkan seseorang di tengah banyak kepentingan.

Tugasnya bukan sekadar membuka dan menutup persidangan. Ia harus memastikan perbedaan tetap berada dalam satu ruang. Perbedaan itu tidak boleh berubah menjadi alasan untuk berpisah.

Baca juga :