Ikuti Kami

Perjuangkan Wong Cilik Lebih Utama dari Bagi-bagi Kekuasaan

Ibu Megawati: dalam kegotongroyongan & permusyawaratan dengan rakyat, masa depan PDI Perjuangan akan menemukan kembali puncak keemasannya

Perjuangkan Wong Cilik Lebih Utama dari Bagi-bagi Kekuasaan
Ketum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri

TANGGAL 10 Agustus 2018 adalah awal dari tonggak perjuangan untuk melanjutkan Nawa Cita jilid II. Di hari Jumat yang mulia itu, Capres petahana Ir. Joko Widodo (Jokowi) bersama KH. Ma'ruf Amin mendaftar ke KPU sebagai pasangan capres-cawapres dalam Pilpres 2019.

PDI Perjuangan, sebagai partai pemenang Pemilu 2014, dengan perolehan suara sebanyak 23.681.471 atau 18,95 persen kursi di DPR RI. Jika merujuk dalam Undang-Undang Pemilu, belum terpenuhi untuk mengusung capres dan harus berkoalisi dengan gabungan partai politik lain.

Dan dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) ke-III PDI Perjuangan yang digelar 23-25 Februari 2018 di Bali, salah satu rekomendasinya adalah kembali mengusung Presiden Jokowi sebagai capres di Pilpres 2019.

Seiring berjalan waktu. Hingga terbentuknya koalisi sembilan partai politik yang sama-sama ingin mengusung kembali Jokowi sebagai capres, PDI Perjuangan tidak mengambil sikap arogan atau kemaruk. 

Meskipun sebagai partai dengan perolehan kursi terbanyak di DPR RI, dan ada kesempatan untuk menyetor nama kader-kader terbaiknya sebagai cawapres Jokowi, tapi itu tidak dilakukan. Dan tidak dipaksakan cawapres Jokowi harus pilihan dari PDI Perjuangan. 

Partai mewakafkan sepenuhnya segala gagasan dan pemikiran serta sumber daya yang dimilikinya semata-mata untuk kepentingan dan kebaikan bersama. Ya, tidak ada terbersit sedikitpun dalam penetapan cawapres atau struktur Tim Kampanye Nasional didominasi oleh PDI Perjuangan.

Adalah hak prerogratif Presiden Jokowi, capres yang diusung sembilan parpol Koalisi yang akhirnya disepakati bernama Koalisi Indonesia Kerja (KIK) itu untuk memilih siapa cawapresnya. Tentu dengan segala masukan dan pertimbangan dari parpol mitra koalisi. 

Dan untuk pemilihan Ketua Tim Kampanye Nasional Pemenangan Jokowi-KH. Ma'ruf Amin, semua itu diserahkan kepada Presiden Jokowi. 

Dalam posisi ini, PDI Perjuangan hanya memikirkan bagaimana proses dan dinamika menuju Pilpres 2019, mampu mengantarkan ke kehidupan berbangsa dan bernegara yang lebih baik dan menjadikan Indonesia jadi negara yang dikagumi di dunia internasional. 

Saya membaca kembali Pidato Ketua Umum PDI Perjuangan, Ibu Hj. Megawati Soekarnoputri dalam Pembukaan Kongres ke III PDI Perjuangan di Bali, 6 April 2010. Dalam pidatonya Ibu Megawati menegaskan, cita-cita yang melekat dalam sejarah Partai kita jauh lebih besar dari sekadar urusan kursi di parlemen, atau sejumlah menteri, ataupun juga sampai melangkah ke Istana Merdeka. 

Disampaikan Ibu Megawati kepada ribuan kader yang hadir dalam Kongres tersebut, kita diajarkan dan ditakdirkan oleh sejarah, bahwa perjuangan mengangkat harkat martabat wong cilik seperti yang dilakukan Bung Karno adalah lebih utama dari urusan bagi-bagi kekuasaan.

Presiden RI kelima itu juga mengingatkan, dalam dialektika dengan rakyat, tugas sejarah setiap kader akan dinilai dan tugas sejarah dari partai akan ditimbang. Ia berkeyakinan, dalam kegotong-royongan dan permusyawaratan dengan rakyat, masa depan PDI Perjuangan akan menemukan kembali puncak keemasannya.

Karenanya, sebagai kader, kembali diwanti-wanti Ibu Megawati: kita harus berbangga bukan ketika kita bersekutu dengan kekuasaan, tapi ketika kita bersama-sama menangis dan tertawa dengan rakyat.

Sederhananya, jangan ragukan ikhtiar PDI Perjuangan sebagai sebuah partai politik yang dalam proses dan dinamika pemenangan Jokowi-KH. Ma'ruf Amin akan diwarnai bagi-bagi kekuasaan. Apalagi ada mahar politik yang dilakukan oleh kelompok yang sudah begitu berambisi dengan kekuasaan seperti yang santer dilakukan oleh pihak lawan.

PDI Perjuangan tetap konsisten dan komitmen dalam memperjuangkan wong cilik. Baik di dalam kekuasaan maupun di luar. Sejarah mencatat, partai ini lahir dan besar dengan platform ideologi yang jelas: Pancasila. Sebuah ideologi besar yang lahir dari rahim Nusantara. Digali dari karakter bangsa. Dan inspirasinya adalah seorang petani muda bernama Marhaen.

Quote