Ikuti Kami

Terkait Polemik Pidato Presiden, Arteria: Sing Waras Ngalah

Diksi "berantem" pun kalau mau dipermasalahkan juga kurang tepat untuk dijadikan dasar polemik.

Terkait Polemik Pidato Presiden, Arteria: Sing Waras Ngalah
Anggota DPR RI Dapil Jawa Timur VI Arteria Dahlan.

Pernyataan Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat rapat umum dengan kelompok relawan di Sentul Bogor beberapa waktu lalu telah ramai diperdebatkan oleh sekelompok orang.

Saat sedang berpidato, Jokowi sempat melontarkan pernyataan keada relawan agar jangan membangun permusuhan, jangan membangun ujaran-ujaran kebencian, dan jangan membangun fitnah.

Presiden Republik Indonesia ke-7 itu juga mengajak relawan agar tidak mencela, tidak menjelekkan orang lain, tetapi kalau diajak "berantem" harus berani.

Kata-kata  Jokowi tentang "berantem" itulah yang yang kemudian ramai menuai komentar negatif. Pasalnya potongan video itu pun langsung menyebar di sosial media. 

Terkait hal itu, Gesuri.id telah berbincang dengan Anggota DPR RI Dapil Jawa Timur VI (blitar, kediri dan tulungagung) dari Fraksi PDI Perjuangan Arteria Dahlan atau yang akrab disapa dengan Teri, ia sangat menyayangkan tak sedikit masyarakat ramai-ramai berkomentar hanya dengan melihat video secara terpotong dan tidak utuh.

Bang Teri, minta komentarnya perihal pidato Presiden Jokowi di hadapan relawan yang menuai polemik itu menurut Bang Teri bagaimana?

Jangan sampai kita ditertawakan oleh anak cucu kita sendiri, kok bapak, om, kakeknya ndak bisa mengambil inti dari sekian lama pembicaraan Pak Presiden Jokowi. Kan secara penafsiran dan pemahaman yang sangat sederhana sudah sangat jelas, pesan pak presiden itu pada intinya memuat dua hal, pertama beliau mengajak semua relawan untuk menjaga serta menggalang persatuan dan kesatuan, persaudaraan dan kerukunan, kedua  agar para relawan untuk tidak membangun permusuhan, membuat ujaran kebencian, memfitnah, mencela dan menjelekkan orang.

Lah kok, yang dibuat dan dijadikan viral malah ada potongan yang bukan substansi dari pembicaraan beliau. Bahkan, sengaja diplot sebagai pidato provokatif seorang presiden. Pertanyaannya, dimana nilai moral mereka yang sengaja membuat potongan video tersebut? Dimana keIndonesiaannya? Mana jati dirimu? Jangan bicara kejujuran, integritas, etika dan moral, sedangkan mengatakan yang benar saja tidak mampu. Bahkan sengaja membalikkan fakta atau keadaan yang sebenarnya.

Yang seperti itu yang namanya berbangsa, berkeIndonesiaan? Bahkan sangat disayangkan potongan tersebut secara tergesa-gesa dikomentari oleh banyak pihak tanpa mengecek terlebih dahulu Fakta yang sebenarnya, berupa pembicaraan Pak Jokowi secara utuh, bukan hanya dengar sepotong terus berkomentar.

Melihat hal ini terjadi di Indonesia, bahkan menjelang pemilihan presiden tahun depan, bagaimana menurut Bang Teri?

Yang jelas sangat disayangkan, di tengah bangsa-bangsa lain berusaha mempersatukan diri dalam menghadapi pertarungan global dan kepentingan kebangsaan yang lebih penting, kita malah masih berkutat dalam isu-isu murahan dan sesat seperti ini.

Bahkan keponakan saya yang masih kecil saja bertanya "kok orang Indonesia yang terlihat pintar-pintar dan hebat-hebat itu bisa salah ya menafsirkan pernyataan presiden, bahkan menjadikannya sebagai polemik. Kenapa gak ada ya yang berfikir dan membicarakan prestasi siswa siswi kita di dunia Internasional, sekadar 1 detik saja dalam satu hari?"

Harapan Bang Teri terkait permasalahan ini seperti apa?

Saya berharap kita semua berhenti berpolemik, bangun kewarasan berpikir, kedepankan nilai-nilai kejujuran yang bersendikan etika dan moral. Saya yakin kalau itu dilakukan tidak akan ada yang mempermasalahkan pidato presiden kemarin.

Bahkan sekalipun dalam potongan, mohon dicermati kembali. Saya gak habis fikir, dari mana ya kalimat presiden yang berkata "tetapi kalau diajak berantem harus berani" apa itu provokatif? Bahkan diksi "berantem" pun kalau mau dipermasalahkan juga kurang tepat untuk dijadikan dasar polemik. Yo wis, "Sing waras ngalah". Yuk kita bersama-sama bangun bangunan dialektika kebangsaan yang berkeindonesian.

Quote