Ikuti Kami

Perempuan di Timur Indonesia Masih Jadi Warga Kelas Dua

Salah satu penyebabnya, budaya patriarki dan kondisi ekonomi di wilayah timur Indonesia.

Perempuan di Timur Indonesia Masih Jadi Warga Kelas Dua
Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Timor Tengah Utara Maria Filiana Tahu.

Jakarta, Gesuri.id - Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Timor Tengah Utara Maria Filiana Tahu menilai perempuan di wilayah timur Indonesia masih dianggap sebagai warga kelas dua. 

Salah satu penyebabnya, budaya patriarki dan kondisi ekonomi di wilayah timur Indonesia.

Baca: Puan: Pemerintah Komitmen dalam Pemberdayaan Perempuan

 “Pada kehidupan nyata di wilayah Indonesia timur, perempuan adalah orang kelas dua,” kata Filiana di Jakarta, Jumat (7/12).

Dikatakan Filiana, persoalan utama di Indonesia Timur adalah perdagangan manusia atau human trafficking. Perdagangan manusia, kata dia, menyelinap di dalam kondisi kemiskinan rakyat di Indonesia timur secara sistematis dan terkoordinir.

Menurutnya, dalang perdagangan manusia biasanya datang dari Pulau Jawa. Mereka merangkul warga sekitar sebagai calo sehingga masyarakat mempercayakan sanak saudaranya untuk mencari penghasilan yang lebih baik di luar negeri.

“Calo-calo itu datang dan memberi tawaran Rp1,5 juta atau Rp1 juta, ada juga yang Rp500 ribu, agar orang tua mengizinkan anaknya diurus calo-calo itu untuk mendapatkan pekerjaan di luar,” kata Filiana.

Setelah itu, lanjut Filiana, para korban akan diselundupkan untuk bekerja di Malaysia, Singapura, dan negara tetangga lainnya. Mereka bekerja secara ilegal tanpa payung hukum jelas.

Politisi PDIP itu menyebut pemerintah provinsi sudah berupaya meminimalisasi hal tersebut dengan melakukan moratorium pengiriman TKI. Namun perdagangan manusia tetap terjadi lewat jalur-jalur tikus.

Filiana mengatakan selain karena faktor ketimpangan ekonomi, kekerasan terhadap perempuan di Indonesia timur terjadi karena budaya patriarki yang masih kental.

Kemandirian dan akses terhadap segala sesuatu masih dibatasi oleh kaum laki-laki. Perempuan pun dianggap lebih rendah dari laki-laki.

Baca: Stop Kekerasan Terhadap Perempuan!

Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2018, ada 9,82 persen orang miskin di Indonesia, sebagian besar terdapat di Indonesia timur. Sebanyak 21,2 persen ada di Maluku dan Papua, 14 persen di Bali dan Nusa Tenggara, dan 10,64 persen di Sulawesi.

Sedangkan data Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) bahwa ada 2.796 kasus kekerasan terhadap perempuan di Indonesia timur sepanjang 2017.

Kekerasan terhadap perempuan paling banyak terjadi di NTT dengan 677 kasus, disusul 416 kasus di Sulawesi Tengah, dan 416 kasus di Sulawesi Utara.

Quote