Ikuti Kami

Walikota Solo: Mosaik Jalan Sudirman Bukan Salib 

Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS) menolak mosaik tersebut karena dianggap salib. 

Walikota Solo: Mosaik Jalan Sudirman Bukan Salib 
Mosaik Jalan Jenderal Sudirman di depan Balai Kota Surakarta.

Solo, Gesuri.id - Baru-baru ini media sosial viral dengan beredarnya foto yang memperlihatkan mosaik Jalan Jenderal Sudirman di depan Balai Kota Surakarta.

Baca: Jalan Sudirman Solo Akan Dikonsep Sebagai Kota Lama

Mosaik jalan itu disebut-sebut mirip dengan salib oleh sebagian orang. Kontroversi pun muncul. Sebuah kelompok yang menamakan diri Dewan Syariah Kota Surakarta (DSKS) menolak mosaik tersebut karena dianggap salib. 

Namun, Pemerintah Kota (Pemkot) Solo tidak akan merubahnya. Menurut Pemkot, mosaik yang mengelilingi Tugu Pemandengan tersebut bukan salib yang merupakan simbol milik umat Kristiani, melainkan delapan arah mata angin.

Walikota Solo FX Hadi Rudyatmo menegaskan, meski ada protes dari sebagian pihak terkait mosaik jalan di Solo mirip salib, pihaknya akan tetap melanjutkan pembangunan penataan koridor jalan tersebut. Sejak awal, lanjut Hadi, tidak ada rencana Pemkot untuk membuat salib di tengah jalan.

“Yang jelas, kita tidak ada rencana atau berpikiran membuat salib yang posisinya di tengah jalan,” tutur Politisi PDI Perjuangan itu, Kamis (17/1).

Hadi melanjutkan, yang melakukan perencanaan di kawasan tersebut adalah Dinas Pekerjaan Umum. Dan Hadi menegaskan, apabila mosaik tersebut merupakan simbol salib, dirinya yang pertama kali akan melakukan protes.

Pasalnya, sebagai umat Katolik, dirinya tidak bisa menerima simbol agamanya diinjak-injak oleh kendaraan yang melintas di kawasan tersebut.

“Saya yang protes kalau tahu itu adalah salib,” tegas Hadi.

Adapun sebagaimana diutarakan pejabat pembuat komitmen (PPK) Proyek Penataan Koridor Jenderal Sudirman tahap pertama, Taufan Basuki, penataan di kasawan tersebut mengusung kearifan lokal.

“Itu tidak menggambarkan salib, itu adalah konsep Jawa di mana delapan arah mata angin mengelilingi Tugu Pemandengan,” ungkap Taufan.

Baca: Wali Kota Solo Pamerkan Tampilan Baru Balai Kota ke Jokowi

Sementara itu, Ketua MUI Solo Sobari juga memberikan tanggapan serupa dengan Walikota. Sobari menyayangkan cara pandang yang hanya melihat kalau mosaik jalan di Solo mirip salib.

“Misalnya itu salib, yang pertama harus marah itu umat Nasrani. Salib itu diletakkan di atas, di tempat terhormat, bukan di jalan,” kata Sobari.

Untuk membahas masalah ini, Pemkot Solo menggelar pertemuan dengan para tokoh agama  pada hari Jum'at (18/1).  Pertemuan itu diinisiasi oleh Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB). Acara juga dihadiri perwakilan dari MUI Solo dan DSKS, sebagai kelompok yang menolak mosaik itu.

Quote