Ikuti Kami

Ada Upaya Halangi Pendukung Jokowi Berikan Suara 

Eva menegaskan, ada modus yang sama dalam kejanggalan pada poses pemungutan suara di beberapa negara tersebut.

Ada Upaya Halangi Pendukung Jokowi Berikan Suara 
Politisi PDI Perjuangan Eva Kusuma Sundari.

Jakarta, Gesuri.id - Politisi PDI Perjuangan Eva Kusuma Sundari mengatakan dirinya banyak menerima keluhan terkait peroses pemungutan suara pemilu di Australia, Arab Saudi, Hongkong dan Amerika. 

Eva menegaskan, ada modus yang sama dalam kejanggalan pada poses pemungutan suara di beberapa negara tersebut.

Baca: Djarot Beberkan Potensi Kecurangan Saat Pemilu

Modus yang digunakan adalah menggunakan oknum yang seolah-olah berperan sebagai Panitia Pemilihan Luar Negeri (PPLN) untuk mendesak agar Tempat Pemungutan Suara (TPS) itu segera ditutup.

"Padahal antrian para calon pemilih, yang kebanyakan pendukung 01 (Jokowi-Amin) sedang 'mengular', tapi justru TPS ditutup," kata Eva kepada Gesuri, Senin (15/4). 

Di Hongkong, lanjut Eva, ketika TPS ditutup ada seorang calon pemilih yang mengaku akan memilih pasangan calon nomor 02, Prabowo-Sandi justru diperbolehkan memilih di TPS. 

"Dan ada yang mendapat foto bahwa di dalam Konjen Hongkong itu kosong, padahal di luar, antrian calon pemilih mengular," ungkap Eva. 

Eva pun mendesak Bawaslu untuk mengevaluasi total para PPLN di Konjen maupun KBRI di luar negeri. Sebab saat ini terjadi modus yang sama, yakni upaya menghalangi para pendukung pasangan calon 01 untuk memberikan suaranya di luar negeri dengan berbagai alasan yang dipaksakan. 

"Jadi ada unsur terstruktur sistematis dan masif (TSM) nya, sehingga bisa ditindak-lanjuti Bawaslu," tegas Eva. 

Eva juga meminta Kementerian Luar Negeri mengevaluasi pelaksanaan pencoblosan pemilu di luar negeri. Sebab ada para staf lokal yang bertindak di luar kewajaran dan melakukan penghalangan. 

"Para staf lokal itu harus di evaluasi. Termasuk pimpinan Komjen dan KBRI setempat juga harus dievaluasi karena melakukan pemeliharaan atau pembiaran terhadap paar staf lokal yang membunuh hak konstitusi warga itu. Bahkan, beberapa orang WNI di Sydney menduga kuat para staf lokal itu adalah pendukung 02," papar Eva. 

Seperti diketahui, ada sejumlah kejanggalan dalam proses pemungutan suara Pemilu 2019 di beberapa negara. Di Sydney misalnya, Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf Amin menerima laporan bahwa ketika pemungutan suara berjalan ada sekitar seratus pemilih yang sudah mengantre tidak diperkenankan menggunakan hak suaranya lantaran waktu sudah habis.         

Baca: Charles: Opini 02 Soal Kecurangan Pilpres Ciptakan Konflik

TKN mencatat hanya 40 orang yang diperbolehkan PPLN Australia menggunakan hak pilih, sedangkan 60 orang lainnya diminta pulang. 

TKN juga menerima aduan soal indikasi keterlibatan panitia pemilihan di Australia di kelompok pendukung pasangan calon 02, Prabowo-Sandiaga.

Quote