Amerika Sheriff Dunia: Ketika Tombstone Bertemu Geopolitik Kontemporer

Oleh: Politisi PDI Perjuangan, Dosen Teknik Elektro, Universitas Adi Buana Surabaya, Daniel Rohi.
Selasa, 20 Januari 2026 09:33 WIB Jurnalis - Heru Guntoro

Jakarta, Gesuri.id -Situasi dunia memunculkan aroma ketegangan saat menutup tahun 2025 dan membuka 2026, seakan membuka bab baru kisah yang penuh ironi sekaligus bahaya. Di tengah sunyinya Hari Natal, 25 Desember 2025, Presiden Donald Trump memerintahkan serangan ke target yang disebut sebagai sarang teroris di Nigeria. Langkah tersebut mengejutkan, bukan hanya karena eskalasi militernya, melainkan juga karena pesan tersirat yang dikirimkan: dalam logika keamanan global ala Trump, tidak ada hari suci.

Seolah kagetnya publik belum tuntas, pada 2 Januari 2026, ketika gelombang demonstrasi antipemerintah meningkat di Iran, Trump kembali berbicara dengan nada keras. Ia memperingatkan bahwa Amerika Serikat tidak akan tinggal diam jika para demonstran ditembak. Dunia belum sempat mencerna ancaman itu ketika pada 34 Januari 2026, Amerika Serikat melancarkan operasi militer besar terhadap Venezuela dan menangkap Presiden Nicols Maduro. Serangan mengejutkan ini memicu kecaman dari berbagai negara karena dianggap sebagai pelanggaran kedaulatan.

Antara Penjahat dan Pahlawan

Trump dicap sebagai agresor, penjajah gaya baru, teroris, bahkan hakim yang bertindak sepihak di panggung internasional. Namun, pada saat yang sama, tidak sedikit pula yang bersorak. Ada mereka yang merasa dibela, dilindungi, atau dibebaskan dari rezim yang dianggap menindas. Dalam satu tarikan napas sejarah, Trump tampil dengan dua wajah sekaligus: ancaman dan harapan, penjahat dan pahlawan. Dunia pun terbelah, bukan hanya dalam penilaian, melainkan juga dalam cara membaca makna kekuasaan.

Menyaksikan sepak terjang Trump, ingatan saya melayang ke film-film koboi tentang Barat yang Liar (the Wild West). Salah satu yang paling membekas adalah Tombstone (1993). Film ini dibuka dengan adegan ikonik: empat pria berpakaian hitam, berjas klasik, dan bertopi lebar, melangkah pelan di bawah matahari Arizona dengan senjata tergenggam di tangan. Mereka tampak seperti penegak hukum sekaligus algojo moral, datang bukan sekadar membawa aturan, melainkan keyakinan bahwa ketertiban harus ditegakkan ketika institusi tak lagi dipercaya.

Baca juga :