Jakarta, Gesuri.id -Situasi dunia memunculkan aroma ketegangan saat menutup tahun 2025 dan membuka 2026, seakan membuka bab baru kisah yang penuh ironi sekaligus bahaya. Di tengah sunyinya Hari Natal, 25 Desember 2025, Presiden Donald Trump memerintahkan serangan ke target yang disebut sebagai sarang "teroris" di Nigeria. Langkah tersebut mengejutkan, bukan hanya karena eskalasi militernya, melainkan juga karena pesan tersirat yang dikirimkan: dalam logika keamanan global ala Trump, tidak ada hari suci.
Seolah kagetnya publik belum tuntas, pada 2 Januari 2026, ketika gelombang demonstrasi antipemerintah meningkat di Iran, Trump kembali berbicara dengan nada keras. Ia memperingatkan bahwa Amerika Serikat tidak akan tinggal diam jika para demonstran ditembak. Dunia belum sempat mencerna ancaman itu ketika pada 3–4 Januari 2026, Amerika Serikat melancarkan operasi militer besar terhadap Venezuela dan menangkap Presiden Nicolás Maduro. Serangan mengejutkan ini memicu kecaman dari berbagai negara karena dianggap sebagai pelanggaran kedaulatan.
Antara Penjahat dan Pahlawan
Trump dicap sebagai agresor, penjajah gaya baru, teroris, bahkan hakim yang bertindak sepihak di panggung internasional. Namun, pada saat yang sama, tidak sedikit pula yang bersorak. Ada mereka yang merasa dibela, dilindungi, atau dibebaskan dari rezim yang dianggap menindas. Dalam satu tarikan napas sejarah, Trump tampil dengan dua wajah sekaligus: ancaman dan harapan, penjahat dan pahlawan. Dunia pun terbelah, bukan hanya dalam penilaian, melainkan juga dalam cara membaca makna kekuasaan.
Menyaksikan sepak terjang Trump, ingatan saya melayang ke film-film koboi tentang Barat yang Liar (the Wild West). Salah satu yang paling membekas adalah Tombstone (1993). Film ini dibuka dengan adegan ikonik: empat pria berpakaian hitam, berjas klasik, dan bertopi lebar, melangkah pelan di bawah matahari Arizona dengan senjata tergenggam di tangan. Mereka tampak seperti penegak hukum sekaligus algojo moral, datang bukan sekadar membawa aturan, melainkan keyakinan bahwa ketertiban harus ditegakkan ketika institusi tak lagi dipercaya.
Alegori Wyatt Earp dan Doc Holliday
Dari adegan itu muncul sosok Wyatt Earp (diperankan oleh Kurt Russell), seorang sheriff yang percaya pada hukum, namun sadar bahwa hukum tanpa kekuatan sering kali hanyalah ilusi. Di sisinya berdiri Doc Holliday (diperankan oleh Val Kilmer), sosok cerdas, rapuh, sinis, namun setia. Ia adalah seorang intelektual frontier yang memahami bahwa dalam dunia tanpa kepastian, moralitas kerap diuji di ujung laras pistol. Tombstone bukan sekadar kisah duel dan peluru, melainkan alegori tentang masyarakat yang kehilangan pegangan saat hukum tertulis tak lagi cukup menjaga keteraturan.
Dalam Tombstone, Wyatt Earp adalah simbol frontier Amerika—wilayah tanpa kepastian dan institusi mapan, tempat hukum tertulis kerap kalah oleh realitas kekerasan. Seperti Wyatt Earp, Trump memandang dunia sebagai frontier baru yang dihuni aktor non-negara seperti jaringan terorisme, kartel narkoba, serta rezim yang dituduh berafiliasi dengan ancaman tersebut. Ia tidak melihat dirinya sebagai pengelola tatanan global yang rapuh, melainkan sebagai sheriff yang wajib bertindak ketika hukum internasional kehilangan wibawanya.
Namun, Wyatt Earp tidak pernah berdiri sendirian. Dalam film, ia ditemani Doc Holliday, pendamping yang memastikan keputusan dijalankan pada saat yang tepat. Peran ini tercermin pada figur-figur konservatif tegas di lingkaran Trump, salah satunya Menteri Pertahanan Pete Hegseth. Jika Trump adalah sheriff yang menunjuk sasaran, maka figur seperti Hegseth adalah representasi Doc Holliday yang mewujudkan keputusan tersebut.
Preteks, Konteks, dan Warisan Sejarah
Untuk memahami sepak terjang Trump, kita perlu masuk ke ranah yang lebih mendasar: pretext (preteks) dan konteks. Trump datang dari dunia bisnis properti New York yang tidak mengenal kesabaran. Dalam logika ini, keputusan yang lambat berarti kerugian, sementara kompromi panjang dibaca sebagai kelemahan.
Preteks tersebut diperkuat oleh etos spiritual Puritan Amerika yang menekankan ketertiban dan disiplin. Ini bukan spiritualitas reflektif yang memberi ruang dialog, melainkan etos operasional yang meyakini bahwa kejahatan harus dihentikan sebelum menyebar. Ketegasan dipahami sebagai kebajikan, sementara keraguan dianggap sebagai kegagalan moral.
Cara pandang ini berakar pada memori historis AS:
1. Manifest Destiny: Keyakinan bahwa Amerika ditakdirkan untuk memimpin dan membawa tatanan dunia.
,2. Doktrin Monroe 1823: Penegasan bahwa Amerika Latin adalah "halaman belakang" AS yang harus aman dari campur tangan asing.
Dunia yang Haus Restorasi
Preteks pribadi Trump bertemu dengan konteks global yang rapuh. China muncul sebagai pesaing strategis, Rusia menantang tatanan lama, dan konflik Timur Tengah berlarut tanpa akhir. Di dalam negeri, kelas menengah Amerika terjepit globalisasi, sehingga jargon diplomasi halus terdengar hampa.
Di sinilah janji "Make America Great Again" menemukan momentumnya sebagai narasi restorasi—mengembalikan Amerika sebagai pusat penentu. Trump membaca dunia seperti pebisnis menghadapi pasar yang kacau: keputusan cepat dan tanpa kompromi adalah kunci mempertahankan kendali.
Refleksi Akhir
Trump, dengan segala kontroversinya, memaksa dunia bercermin. Ia menunjukkan bahwa di balik diplomasi elegan, kekuasaan tetap dijalankan oleh manusia dengan naluri dan nilai personal. Pertanyaan akhirnya bukanlah apakah Trump benar atau salah, melainkan apakah dunia hari ini masih bisa ditata dengan logika frontier.
Apakah sheriff tunggal masih relevan? Seperti film Tombstone, dunia hari ini menatap ketidakpastian. Di balik setiap hukum yang ditegakkan, bayang-bayang ambisi dan ketakutan tetap mengintai. Dunia masih menunggu jawaban: apakah kekuasaan digunakan untuk menata stabilitas bersama, atau sekadar topeng untuk menaklukkan dan menguras sumber daya?

















































































