Membaca Ulang Fondasi Ekonomi Indonesia 2025 dan Ujian Berat Menuju 2026

Oleh : Harris Turino Kurniawan - Anggota Komisi XI DPR RI.
Kamis, 15 Januari 2026 15:47 WIB Jurnalis - Heru Guntoro

Dunia yang Tidak Lagi Ramah
Perekonomian Indonesia tahun 2025 bergerak di tengah dunia yang semakin tidak ramah bagi negara berkembang. Ketidakpastian global tidak lagi bersifat sementara, tetapi telah menjadi bagian dari lanskap ekonomi baru. Eskalasi konflik geopolitik, fragmentasi perdagangan internasional, serta kebijakan tarif resiprokal Amerika Serikat menciptakan tekanan berlapis yang menjalar ke hampir seluruh sendi perekonomian dunia.

Data menunjukkan bahwa World Uncertainty Index dan World Trade Uncertainty Index sepanjang 2025 berada pada level tinggi. Sejalan dengan itu, volume perdagangan dunia mengalami tren penurunan dan PMI manufaktur global bertahan di bawah ambang ekspansi. Bagi Indonesia, tekanan global ini hadir secara nyata melalui kinerja ekspor, arus modal, dan stabilitas nilai tukar.

Penyempitan Ruang Moneter Global
Ruang pelonggaran kebijakan moneter global semakin sempit. Penurunan suku bunga bank sentral utama dunia berlangsung tidak serempak dan cenderung hati-hati. Selisih suku bunga antara Indonesia dan Amerika Serikat, baik pada suku bunga acuan maupun imbal hasil obligasi pemerintah, terus menyempit sepanjang 2025. Interest rate differential yang mengecil ini mengurangi daya tarik aset domestik dan meningkatkan risiko capital outflow, terutama di tengah meningkatnya minat global terhadap aset safe haven.

Pertumbuhan Ada, Tapi Daya Dorong Melemah
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan ketiga 2025 tercatat sebesar 5,04 persen. Namun struktur pertumbuhannya mengindikasikan pelemahan daya dorong domestik. Konsumsi rumah tangga hanya tumbuh 4,89 persen, lebih rendah dari pertumbuhan PDB. Indeks Keyakinan Konsumen dan Indeks Penjualan Riil berada pada level terendah dalam dua tahun terakhir.

Tekanan daya beli semakin terlihat dari sisi mikro. Sebanyak 99 persen pemilik rekening bank berada pada tiering simpanan di bawah seratus juta rupiah, dengan rata rata nominal simpanan turun menjadi sekitar Rp1,67 juta per September 2025. Data ini menunjukkan bahwa bantalan keuangan rumah tangga menipis, sehingga konsumsi ke depan berpotensi semakin tertahan.

Baca juga :