Jakarta, Gesuri.id - Eskalasi teror terhadap Influencer Ramond Donny Adam alias DJ Donny atas kritikanya kepada kebijakan pemerintah melalui media sosial yang bermula dari kiriman paket ayam mati dengan ancaman pembunuhan hingga berujung pada pelemparan bom molotov, bukanlah sekedar peristiwa acak, dikarenakan teror ini memiliki kecendurungan pola yang sama yang juga menimpa influencer dan aktivis media sosial seperti Virdinan Aurellio, Sherly Annavita, Iqbal Damanik dan Jurnalis Tempo, bahkan Guru Besar UGM Zainal Arifin.
Jika peristiwa ini dibaca menggunakan logika Economic Analysis of Law Robert D. Cooter dan Thomas Ulen, menunjukan teror ini sangatlah rasional, efisien dan dilakukan secara terencana.
Apalagi saat ini ruang publik telah menjadi pasar informasi dan di dalamnya terdapat influencer dan aktivis media sosial yang berposisi sebagai pesaing yang menawarkan produk berupa informasi alternatif, kritik, data penyeimbang dan diarah berlawanan ada pihak penguasa atau oligarki yang berkepentingan bertindak sebagai pemain lama yang ingin tetap mendominasi narasinya diruang digital untuk mempertahankan posisinya.
Dalam konteks ini, teror yang menimpa Ramond Donny Adam sebagai korban, dimulai dari tahap pertama yaitu pelaku melakukan pemberian sinyal dengan mengirim ayam mati dengan pesan pengancaman pembunuhan dan telah mengetahui alamat korban.
Teror tahap pertama ini dimulai dengan biaya hampir nol rupiah atau modalnya sangat kecil, tetapi jika korban langsung takut dan tidak melakukan kritikan lagi, pelaku sudah menang besar dengan usaha yang minim.