Mengapa Kudatuli 1996 Menjadi Pemantik Utama Runtuhnya Orde Baru?

Panda membagikan kesaksian mendalam mengenai dinamika politik Orde Baru, represi militer, hingga keteguhan kepemimpinan Megawati.
Selasa, 21 Juli 2026 11:24 WIB Jurnalis - Heru Guntoro

Jakarta, Gesuri.id - Peristiwa penyerbuan kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro Nomor 58, Jakarta Pusat, pada 27 Juli 1996yang dikenal sebagai Kudatuli (Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli)menjadi salah satu lembaran paling kelam sekaligus krusial dalam sejarah modern Indonesia.

Memasuki refleksi 30 tahun peristiwa tersebut, kepada Moncong Putih politisi senior sekaligus saksi kunci sejarah, Panda Nababan, membagikan kesaksian mendalam mengenai dinamika politik Orde Baru, represi militer, hingga keteguhan kepemimpinan Megawati Soekarnoputri.

1. Anatomi Kontrol Total Orde Baru:Negara Tanpa Ruang Pengawasan

Untuk memahami akar Peristiwa Kudatuli, peta politik Orde Baru pasca-jatuhnya Presiden Soekarno perlu dipahami secara mendalam. Pemerintahan yang dipimpin Presiden Soeharto menjelma menjadi rezim otoriter yang alergi terhadap kontrol sosial.

Keterlibatan aparat keamanan dan militer dalam ranah sipil bersifat absolut melalui doktrin Stabilitas Nasional. Instrumen penindakan dan kontrol sosial dijalankan secara sistematis melalui beberapa instrumen:

Baca juga :