Satu Juta Sarjana Menganggur, Catatan Kritis 81 Tahun Indonesia Merdeka

Oleh: I Nyoman Parta, Anggota Komisi III DPR RI Fraksi PDI Perjuangan.
Sabtu, 15 Agustus 2026 12:00 WIB Jurnalis - Ananda Okctaviani

Jakarta, Gesuri.id - Ada dua kabar tentang ketenagakerjaan yang muncul hampir bersamaan dan menurut saya perlu kita baca sebagai satu persoalan besar.

Pertama, data BPS Mei 2026 menunjukkan Indonesia masih memiliki sekitar 7,22 juta penganggur. Yang menarik, sekitar 1,03 juta di antaranya merupakan lulusan D4 hingga S3. Artinya, lebih dari satu juta orang yang telah menempuh pendidikan tinggi belum mendapatkan pekerjaan.

Kedua, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie mengungkap adanya peluang bagi sekitar 100 ribu warga Indonesia setiap tahun untuk bekerja di Jepang. Pemerintah kemudian bergerak menyiapkan satgas dan melibatkan _career center_ perguruan tinggi untuk mempersiapkan calon pekerja.

Di satu sisi, tentu ini kabar baik. Jepang membutuhkan tenaga kerja, sementara Indonesia memiliki angkatan kerja yang besar. Kesempatan itu harus kita manfaatkan. Tetapi di sisi lain, saya justru melihat sebuah pertanyaan yang lebih mendasar. Mengapa negara dan keluarga mengeluarkan biaya besar untuk menghasilkan sarjana, tetapi setelah mereka lulus, perekonomian kita belum mampu menyediakan cukup banyak pekerjaan yang sesuai dengan kompetensi mereka?

Berkaitan dengan persoalan banyaknya sarjana yang menganggur, setidaknya ada beberapa persoalan yang menjadi latar belakang penyebabnya,

Baca juga :