Jakarta, Gesuri.id Politikus PDI Perjuangan, Ribka Tjiptaning, menegaskan bahwa Peristiwa Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli (Kudatuli) 1996 di Jalan Diponegoro 58, Jakarta Pusat, merupakan monumen perlawanan sekaligus cikal bakal lahirnya Era Reformasi di Indonesia.
Menurutnya, peristiwa tersebut menjadi titik didih kemuakan masyarakat terhadap rezim Orde Baru yang berkuasa saat itu.
Ribka menjelaskan bahwa mimbar demokrasi yang berdiri di kantor DPP PDI saat itu bukan sekadar urusan internal partai antara Megawati Soekarnoputri dan Soerjadi. Tempat tersebut telah bertransformasi menjadi ruang konsolidasi bagi seluruh elemen masyarakat sipil yang menuntut perubahan politik.
Baca:
Dulu yang ada di Diponegoro 58 itu bukan hanya PDI Pro-Mega saja. Mahasiswa, kaum miskin kota, buruh, tani, hingga nelayan ada di situ. Termasuk organisasi pemuda seperti Pijar, Aldera, PRD, dan Mari. Semua berkumpul karena sudah muak dengan Orde Baru, ujar Ribka Tjiptaning kepada Moncong Putih.