Satyam Eva Jayate dan Cerita Ribka Tjiptaning tentang Perlawanan Rakyat di Kudatuli 1996

Ribka menjelaskan bahwa bertahan di tengah tekanan politik rezim otoriter membutuhkan keteguhan mental dan strategi yang terukur.
Kamis, 23 Juli 2026 11:06 WIB Jurnalis - Kristin Tambunan

Jakarta, Gesuri.id Peristiwa Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli (Kudatuli) 1996 menjadi cermin sejarah penting mengenai pola konsolidasi gerakan rakyat di Indonesia.

Kezaliman rezim Orde Baru terhadap sosok Megawati Soekarnoputri pada masa itu justru menjadi pemantik keberanian publik untuk menyuarakan kebenaran serta meruntuhkan ilusi ketakutan.

Keberanian rakyat yang mengkristal dalam peristiwa tersebut dilandasi oleh semangat Satyam Eva Jayatebahwa pada akhirnya kebenaran yang akan menang. Sosok Megawati yang terzalami saat itu dipandang sebagai payung perlawanan yang menyatukan berbagai elemen bangsa, mulai dari tokoh lintas agama, mahasiswa, hingga organisasi pemuda.

Baca:Inilah Profil dan BiodataGanjarPranowo

Gerakan perlawanan Kudatuli 1996 menjadi titik temu konsolidasi nasional yang melibatkan tokoh-tokoh besar bangsa. Selain kepemimpinan Megawati di PDI, hadir pula dukungan kuat dari KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mewakili Nahdlatul Ulama, Sri Sultan Hamengku Buwono X, Amien Rais, serta aktivis lintas organisasi seperti Partai Rakyat Demokratik (PRD).

Baca juga :