KIPAS angin di langit-langit berputar lambat, seolah enggan mengusir udara panas Jakarta yang meruap di awal Agustus 1945. Di luar sana, balatentara Dai Nippon masih berpatroli dengan senapan berbayonet, menjaga fasad kekuasaan yang sesungguhnya mulai retak. Perang Pasifik memasuki babak akhir, dan sayup-sayup kabar kekalahan Jepang mulai bocor dari radio-radio gelap yang diselundupkan para pemuda.
Namun, di dalam ruangan itu, waktu terasa berhenti.
Hari itu, 3 Agustus 1945. Sidang Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) telah resmi ditutup pada pertengahan Juli lalu. Tugas merumuskan dasar negara dan rancangan undang-undang dasar memang telah rampung, tetapi bagi Soekarno, pekerjaan yang sesungguhnya baru saja dimulai.
Pria bernyali singa itu duduk menatap rekan-rekan pergerakannya. Pakaian putih-putihnya yang khas tampak necis, kontras dengan raut wajahnya yang memendam beban puluhan juta rakyat Nusantara. Di sebelahnya, Mohammad Hatta duduk dengan tenang. Hatta baru saja melepas kacamatanya, menyekanya perlahan dengan sapu tangan, sebelum kembali menatap tajam ke arah kertas-kertas catatan di atas meja.
Kita tidak bisa membiarkan kekosongan ini berlarut, apalagi menjadi lautan darah, suara bariton Soekarno memecah keheningan. Jepang sudah berjanji, ya. Tapi kemerdekaan ini harus kita yang susun batanya, satu demi satu. Terencana.