Pagi itu, 12 Agustus 1945, udara di dataran tinggi Dalat terasa menggigit. Kabut tipis masih menggantung di sela-sela pepohonan pinus ketika rombongan kecil dari Indonesia melangkah masuk ke markas besar Komando Tentara Wilayah Selatan Kekaisaran Jepang.
Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta, dan dr. Radjiman Wedyodiningrat berjalan dengan dada tegak, meski dada mereka sesungguhnya bergemuruh hebat. Mereka akhirnya akan mengetahui mengapa Jepang secara mendadak menarik mereka melintasi Laut China Selatan di tengah ancaman rudal Sekutu.
Di dalam ruangan yang difungsikan sebagai ruang pertemuan diplomatik, berdirilah Jenderal Besar Hisaichi Terauchi. Panglima tertinggi yang membawahi seluruh front perang Asia Tenggara itu tampak berusaha menjaga wibawa fasismenya, meski usianya yang menua dan tekanan perang yang menghancurkan Jepang (pasca-bom atom) membuat wajahnya gurat akan kelelahan.
Palu Diketuk: Hadiah di Hari Ulang Tahun
Pertemuan itu berlangsung formal dan ringkas. Tidak ada perdebatan panjang ala sidang BPUPK.Terauchi, melalui penerjemahnya, Letkol Miyosi, langsung menyampaikan amanat dari Kaisar Hirohito di Tokyo.
Pemerintah Kekaisaran, ujar Terauchi dengan nada yang diatur setenang mungkin, telah memutuskan untuk memberikan kemerdekaan kepada Indonesia.
Tiga tokoh Indonesia itu menahan napas. Ini adalah kalimat yang mereka tunggu bertahun-tahun. Namun, Soekarno dan Hatta tidak serta-merta dibutakan oleh euforia. Insting politik Hatta segera bekerja. Mengingat politik pecah belah Jepang, Hatta harus memastikan satu hal fundamental.Wilayah mana yang dimerdekakan? Apakah hanya Jawa?
Sebelum pertanyaan itu sempat dilemparkan, Terauchi melanjutkan detailnya yang membuat kelegaan luar biasa mengalir di dada Dwitunggal. Kemerdekaan itu akan mencakup seluruh wilayah bekas Hindia Belandamulai dari ujung Sumatra hingga ke Irian Barat. Wilayah Kalimantan, Kalimantan Utara, Timor Portugis, Irian Barat dan pulau-pulau di sekitarnyaadalah kemenangan geopolitik yang mutlak.
Soekarno, yang selalu berpikir tentang momentum massa, segera mengajukan pertanyaan taktis.Kapan keputusan Tokyo ini dapat diumumkan kepada rakyat? tanyanya.
Terauchi menatap Soekarno. Dalam momen yang seolah mencerminkan Jepang melepaskan kendalinya atas Nusantara, Sang Panglima menjawab, Terserah kepada tuan-tuan Panitia Persiapan. Kapan saja dapat. Itu sudah menjadi urusan tuan-tuan.
Selepas penyampaian pesan itu, suasana mencair. Terauchi menyalami ketiga tokoh tersebut, diikuti oleh para staf perwiranya. Bagi Mohammad Hatta, jabatan tangan itu terasa sangat personal. Hari itu bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke-43.
Dalam hati kecilku, tulis Hatta kelak dalam otobiografinya, aku menganggap kemerdekaan Indonesia itu sebagai hadiah jasaku sekian lama berjuang untuk kemerdekaan Indonesia.
Meninggalkan Dalat: Menjahit Rencana di Angkasa
Siang itu juga, tepat pukul 12.00 waktu setempat, mereka langsung meninggalkan Dalat. Tujuan mereka jelas: kembali ke Jakarta secepat mungkin sebelum angin politik berubah atau tentara Sekutu menghambat perjalanan mereka. Rombongan kembali bertolak ke Saigon, untuk kemudian transit dan bermalam di Singapura sebelum etape terakhir ke Kemayoran.
Perjalanan pulang inimeski secara diplomatis mereka menang besarsama sekali tidak bertabur kemewahan. Saat lepas landas dari Singapura menuju Jakarta, armada udara Jepang yang tersisa hanyalah rongsokan sisa perang.
Rombongan Bapak Bangsa ini dimasukkan ke dalam perut sebuah pesawat pengebom Jepang yang sudah uzur. Dinding lambungnya penuh tambalan dan lubang bekas rentetan tembakan senapan mesin Sekutu. Jangan harap ada kursi penumpang yang layak. Mereka duduk beralaskan apa saja di lantai kabin yang dingin dan bergetar hebat. Tidak ada pendingin udara, apalagi toilet.
Namun, semangat kemerdekaan mengalahkan penderitaan fisik. Di tengah deru bising baling-baling, Soekarno dan Hatta berdiskusi dengan intens. Wajah Soekarno menyala. Mereka tidak lagi membahas filosofi dasar negara; mereka membahas hal teknis. Kapan Proklamasi dibacakan? Bagaimana menyusun kabinet pertama? Bagaimana mengonsolidasikan PPKI begitu roda pesawat menyentuh aspal Jakarta?
Insiden Kecil yang Manusiawi
Di tengah diskusi berapi-api soal nasib negara itu, alam memanggil. Soekarno mendadak kebelet buang air kecil. Mengingat pesawat pengebom itu tidak memiliki bilik toilet, Soekarno kebingungan. Menahan kencing selama penerbangan berjam-jam jelas menyiksa.
Ia berbisik kepada dr. Suharto, dokter pribadinya yang turut dalam rombongan. Sang dokter, dengan pragmatisme masa perang, memberikan solusi yang logis namun berisiko. Ia menyarankan agar Soekarno buang air kecil saja ke arah luar melalui salah satu lubang bekas tembakan peluru yang menganga di bagian ekor pesawat.
Soekarno mengamini. Sang pemimpin massa, pria yang baru saja menundukkan jenderal fasis di Dalat, berjalan ke bagian belakang pesawat. Ia membuka ritsleting celananya dan mengarahkan hajatnya ke lubang peluru tersebut.
Namun, hukum aerodinamika tidak memihaknya. Angin kencang yang masuk dari luar melalui lubang-lubang kecil di ekor pesawat justru meniup balik aliran air seninya. Cairan itu memercik dan menyembur ke seluruh ruangan kabin.
Insiden itu terekam jenaka dalam biografi Soekarno: Kawan-kawanku yang malang terpaksa mandi dengan zat cairan itu. Dalam setengah basah inilah pemimpin besar dari revolusi Indonesia sampai di Jakarta.
Hari berikutnya, 14 Agustus 1945 siang, pesawat yang membawa presiden pertama Indonesia itu mendarat di Lapangan Terbang Kemayoran. Meski setengah basah oleh insiden di udara, wibawa Soekarno tak memudar saat menuruni tangga pesawat.
Ribuan orangyang cemas menunggu berhari-haritelah berkumpul di Kemayoran. Mereka menuntut satu jawaban: Apa hasil perjalanan rahasia ke Vietnam?
Soekarno, sang maestro panggung, mengambil napas. Ia tidak menjabarkan dokumen formal atau perjanjian Dalat yang rumit. Ia menggunakan bahasa rakyat, melempar kalimat yang langsung mengunci keyakinan massa:
Apabila dulu aku katakan bahwa Indonesia akan merdeka sesudah jagung berbuah, sekarang dapat dikatakan Indonesia akan merdeka sebelum jagung berbunga!
Gemuruh tepuk tangan dan pekik Indonesia Merdeka pecah di Kemayoran. Namun, euforia itu tidak berlangsung lama. Begitu rombongan ini tiba di rumah, realitas baru telah menunggu.
Di kediaman Hatta, Sutan Sjahrir telah menanti dengan wajah tegang. Ia membawa kabar dari radio gelap: Kekaisaran Jepang sudah menyerah kepada Sekutu. Janji Terauchi di Dalat tidak lagi memiliki arti. Revolusi harus diambil alih malam itu juga, lepas dari campur tangan PPKI.
Perjalanan panjang melintasi badai dan peluru Sekutu itu pada akhirnya hanyalah pembuka bagi badai yang lebih besar di dalam negeri: Peristiwa Rengasdengklok yang akan terjadi dua hari kemudian.