Ikuti Kami

Perjalanan Pulang Menuju Tanah Air, 12–13 Agustus 1945

Dari Dalat ke Jakarta, di Tengah Pusaran Sejarah yang Berubah

Perjalanan Pulang Menuju Tanah Air, 12–13 Agustus 1945
Tiga tokoh bangsa pulang ke tanah air setelah dari Dalat Vietnam

Babak 1: Selesai Sudah di Dalat
Pertemuan dengan Marsekal Hisaichi Terauchi di Dalat, Vietnam, pada 12 Agustus 1945 pukul 10.00 waktu setempat, telah usai. Di hadapan tiga tokoh bangsa Soekarno, Mohammad Hatta, dan Radjiman Wedyodiningrat, sang marsekal menyampaikan kabar yang selama ini dinanti: Pemerintah Jepang di Tokyo telah memutuskan untuk memberikan kemerdekaan kepada seluruh wilayah bekas Hindia Belanda.

Dalam pertemuan yang berlangsung alot itu, Terauchi menyatakan bahwa kemerdekaan akan diberikan pada 24 Agustus 1945. Ketika Soekarno bertanya, "Apakah sudah boleh bekerja sekitar 25 Agustus 1945?", Terauchi memberikan jawaban yang mengubah segalanya: "Terserah kepada tuan-tuan di Panitia Persiapan. Kapan saja boleh. Itu sudah menjadi urusan tuan-tuan."

Bagi Hatta, momen ini terasa begitu istimewa. Ia mengaku "gembira luar biasa sebab hari itu tanggal 12 Agustus 1945, hari ulang tahunku". Dalam hati kecilnya, ia menganggap kemerdekaan Indonesia sebagai "hadiah" atas perjuangannya selama ini.

Namun kegembiraan itu harus segera ditinggalkan. Tidak ada waktu untuk beristirahat atau merayakan. Mereka harus segera kembali ke Tanah Air. Dunia sedang berubah dengan kecepatan yang memusingkan bom atom telah meluluhlantakkan Hiroshima dan Nagasaki, dan Kekaisaran Jepang sedang terhuyung menuju keruntuhan. Setiap menit yang terbuang bisa menjadi petaka.

Maka pada hari yang sama, 12 Agustus 1945, rombongan segera meninggalkan Dalat. Mereka terbang kembali menuju Saigon.

Babak 2: Malam di Saigon yang Kebanjiran
Setibanya di Saigon, mereka kembali menghadapi kenyataan yang tak menyenangkan. Kota yang menjadi markas besar Terauchi itu sedang kebanjiran. Air merendam jalan-jalan, membuat segala sesuatu terasa lembap dan tidak nyaman. Namun mereka tidak punya pilihan. Mereka harus menginap semalam di Saigon sebelum melanjutkan perjalanan.

Malam itu, di tengah kota yang terendam banjir, tiga tokoh bangsa itu beristirahat atau setidaknya mencoba beristirahat. Pikiran mereka tentu melayang jauh: ke Jakarta, ke keluarga yang ditinggalkan, ke masa depan bangsa yang kini terbentang di depan mata. Janji kemerdekaan telah mereka genggam. Namun jalan untuk mewujudkannya masih panjang dan penuh ketidakpastian.

Di kejauhan, perang masih berkecamuk. Jepang belum secara resmi menyerah, meski tanda-tanda kekalahan sudah terlihat jelas. Di Saigon yang kebanjiran itu, di tengah malam yang sunyi, mereka mungkin bertanya-tanya: Apa yang akan terjadi ketika kami kembali?

Babak 3: 13 Agustus 1945 Pesawat Pembom Uzur dan Penerbangan yang Mencekam
Keesokan harinya, 13 Agustus 1945, rombongan bertolak dari Saigon menuju Singapura. Namun kali ini, fasilitas yang mereka terima jauh berbeda dibanding saat berangkat ke Dalat.
Jika sebelumnya mereka diangkut dengan pesawat militer yang layak, kini mereka hanya diberikan pesawat pembom kuno berukuran kecil——sebuah fighter bomber tua yang sudah uzur dan ringsek. Pesawat itu penuh lubang bekas peluru, tanpa tempat duduk di kabin, tanpa pemanas, dan tanpa kakus. Ini adalah pesawat perang, bukan pesawat penumpang. Dan mereka harus menumpanginya pulang ke Tanah Air.

Soekarno mengenang kondisi pesawat itu dengan jelas. "Kami tidak lagi naik pesawat penumpang yang enak. Kami diantar oleh seorang penerbang, seorang pembantu penerbang dan dengan pesawat pembom yang sudah uzur dan ringsek."

Bayangkan empat orang Soekarno, Hatta, Radjiman Wedyodiningrat, dan dr. Soeharto (dokter pribadi Bung Karno) harus berdiri atau berbaring di sepanjang perjalanan. Tidak ada kursi untuk duduk. Tidak ada pemanas untuk melawan dinginnya udara di ketinggian. Tidak ada toilet untuk kebutuhan dasar. Hanya kabin kosong dari sebuah pesawat pembom yang telah melihat banyak pertempuran.

Penerbangan itu adalah gambling and desperate flight sebuah penerbangan maut yang mempertaruhkan nyawa. Udara di sepanjang rute masih dikuasai oleh Sekutu. Pesawat mereka bisa disergap kapan saja. Namun mereka tidak punya pilihan. Mereka harus pulang.

Babak 4: Insiden di Dalam Kabin Ketika Bung Karno Kebelet
Di dalam kabin pesawat pembom yang sempit dan dingin itu, terjadi sebuah insiden yang kelak menjadi legenda. Soekarno, yang sejak lama menahan kebutuhan alaminya, akhirnya tidak bisa bertahan lagi. Ia kebelet buang air kecil. Namun pesawat tua itu tidak memiliki toilet. Dalam keadaan darurat, Soekarno terpaksa mencari solusi. Ia melihat lubang-lubang bekas tembakan di lantai pesawat lubang-lubang yang menganga ke udara bebas di bawah. Dengan risiko yang tidak kecil, ia mendekati salah satu lubang itu dan mulai mengucurkan air seninya ke sana.

Namun takdir berkata lain. Tiupan angin kencang di ketinggian angin yang sama yang membuat kabin terasa membeku mengempaskan air seni itu kembali ke dalam kabin, mengenai para penumpang. Hatta, Radjiman, dan dr. Soeharto yang tidak menyangka akan "mandi" dengan cara seperti itu terkena percikannya. Soekarno, dengan gaya khasnya yang selalu bisa mencairkan suasana, berkomentar: "Kawan-kawanku yang malang itu mandi dengan air istimewa."

Ketika pesawat mendarat di Jakarta, Hatta dan rombongan masih dalam kondisi basah akibat "air istimewa" dari Bung Karno. Mereka mungkin tertawa, mungkin juga kesal. Namun di tengah segala ketidaknyamanan itu, mereka tahu bahwa mereka membawa pulang sesuatu yang jauh lebih berharga daripada kenyamanan: janji kemerdekaan.

Babak 5: Singgah di Singapura Malam Terakhir Sebelum Tanah Air
Dari Saigon, rombongan melanjutkan penerbangan ke Singapura. Mereka tiba di kota pelabuhan itu dan menginap semalam malam terakhir sebelum akhirnya tiba di Jakarta.
Di Singapura, terjadi sesuatu yang menarik. Jepang rupanya sudah mempersiapkan pertemuan rahasia. Pada hari yang sama ketika Soekarno-Hatta bertemu dengan Terauchi di Dalat (12 Agustus), Jepang menerbangkan dua anggota PPKI lainnya ke Singapura: Mr. Teuku Mohammad Hasan dan Dr. Mohammad Amir.

Kedua tokoh ini kemudian dipertemukan dengan Soekarno, Hatta, dan Radjiman dalam perjalanan pulang dari Dalat pada 13 Agustus 1945. Pertemuan senyap di Singapura ini membahas kemungkinan penyatuan Indonesia dengan Malaya sebuah gagasan yang jika terwujud, bisa mengubah sejarah Proklamasi Kemerdekaan RI. Namun sejarah memilih jalan lain. Gagasan itu tidak terwujud. Dan keesokan harinya, 14 Agustus 1945, rombongan bertolak dari Singapura menuju Jakarta.

Epilog: Tiba di Tanah Air, Menghadapi Kenyataan Baru
14 Agustus 1945, pagi itu, rombongan Bung Karno akhirnya mendarat di Lapangan Terbang Kemayoran, Jakarta. Mereka telah menempuh perjalanan panjang dan berbahaya melewati ketidakpastian di Dalat, banjir di Saigon, pesawat pembom uzur yang tanpa kursi dan toilet, serta insiden "air istimewa" yang membuat mereka basah kuyup.

Di depan orang banyak yang datang menyambut, Bung Karno berpidato dengan penuh keyakinan:

"Kalau dahulu saya berkata, sebelum jagung berbuah Indonesia akan merdeka, sekarang saya dapat memastikan Indonesia akan merdeka sebelum jagung berbunga."
Namun mereka belum tahu bahwa dunia telah berubah drastis selama mereka berada di udara. Pada hari yang sama ketika mereka terbang pulang dari Dalat 14 Agustus 1945 Kaisar Hirohito mengumumkan bahwa Jepang menyerah tanpa syarat kepada Sekutu.

Berita kekalahan Jepang ini didengar cepat oleh para pemuda, khususnya Sutan Sjahrir yang bekerja di kantor berita Domei. Ketika Soekarno dan Hatta tiba di Jakarta, mereka masih belum mengetahui kabar ini. Mereka masih berpijak pada kesepakatan Dalat: kemerdekaan akan diberikan pada 24 Agustus melalui PPKI.

Maka ketika para pemuda dipimpin oleh Chaerul Saleh, Wikana, dan Sukarni mendesak Soekarno-Hatta untuk segera memproklamasikan kemerdekaan, jawaban yang diterima adalah penolakan. Soekarno beralasan bahwa ia harus berunding terlebih dulu dengan PPKI. Hatta pun berpendirian sama.

Bagi para pemuda, jawaban ini adalah penghinaan. Mereka tidak ingin kemerdekaan Indonesia dipandang sebagai pemberian Jepang. Kemerdekaan harus diproklamasikan atas keinginan rakyat Indonesia sendiri, bukan atas izin penjajah yang sudah kalah.

Perbedaan pandangan ini akhirnya berujung pada Peristiwa Rengasdengklok pada 16 Agustus 1945 dan Proklamasi Kemerdekaan pada 17 Agustus 1945 lebih cepat dari tanggal 24 Agustus yang "dianjurkan" Jepang.

Quote