Langit Saigon, 11 Agustus 1945, masih diselimuti kabut tipis saat tiga tokoh bangsa itu bersiap melanjutkan perjalanan. Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta, dan Dr. Radjiman Wedyodiningrattelah menginap semalam di kota yang kebanjiran itukembali naik ke pesawat militer Jepang yang akan membawa mereka ke Dalat, sebuah kota perbukitan di pedalaman Vietnam.
Mereka tahu bahwa di ujung perjalanan itu ada Marsekal Hisaichi Terauchi, panglima tertinggi pasukan Jepang di Asia Tenggara. Namun mereka tidak tahu mengapa dipanggil. Yang mereka tahu hanyalah bahwa dunia sedang berubah dengan kecepatan yang memusingkan: bom atom telah meluluhlantakkan Hiroshima pada 6 Agustus dan Nagasaki pada 9 Agustus. Jepang, penguasa yang selama tiga setengah tahun menduduki tanah air mereka, sedang terhuyung di tepi jurang kekalahan.
Bung Karno mengenang bagaimana panggilan rahasia dari Terauchi itu datang secara mendadak, membuat mereka diliputi kegalauan. Dalam hati masing-masing bertanya, apa gerangan yang akan terjadi. Namun, meski tak satu pun dari para pemimpin bangsa itu mengetahui tujuan pemanggilan tersebut, mereka tetap terbang pada 8 Agustus 1945 menggunakan pesawat yang disediakan pihak Jepang.
Penerbangan mereka adalah misi senyap. Berangkat pukul lima pagi pada 9 Agustus dari Jakarta, diantar Letnan Kolonel Nomura dari Gunseikanbu dan seorang penerjemah bernama Miyoshi. Begitu rahasianya misi ini, bahkan keluarga terdekat pun tidak diberi tahu. Perjalanan dari Singapura ke Saigon nyaris menjadi petaka. Hujan lebat dan kabut tebal menyelimuti jalur penerbangan. Pilot terpaksa memutar-mutar pesawat di udara selama sejam sebelum akhirnya mendarat dengan keras di sebuah lapangan terbuka. Soekarno mengenang:
Kami mendarat dengan keras di suatu lapangan terbuka dan hampir saja menubruk seekor kerbau. Barang-barang berserakan. Kami terhempas dan benjol-benjol. Pikiran kami semua sangat tergoncang karenanya.
Bercampur dengan kecemasan karena tak tahu tujuan pemanggilan mereka oleh Terauchi, pengalaman tak mengenakkan itu belum selesai. Penjemput yang akan membawa mereka ke Saigon belum juga datang setelah beberapa jam.