Ikuti Kami

Janji Terauchi, Sebuah Pengakuan di Ujung Tanduk

Dengan janji kemerdekaan, Jepang seolah menjamin bahwa mereka tetap memegang kendali atas proses politik di wilayah jajahannya

Janji Terauchi, Sebuah Pengakuan di Ujung Tanduk
Diplomasi Dalat Vietnam untuk mempersiapkan kemerdekaan

Marsekal Hisaichi Terauchi menyambut tamunya dengan hidangan teh dan kue. Senyumnya tampak ramah, namun di balik keramahan itu, ia dan kekaisaran yang diwakilinya sedang berada di titik nadir. Dua bom atom telah meluluhlantakkan Hiroshima dan Nagasaki. Uni Soviet menyatakan perang dan menyerbu Manchuria. Kekalahan Jepang sudah di depan mata.

Yang mungkin tidak diketahui oleh Soekarno, Hatta, dan Radjiman saat mereka duduk di hadapan sang marskal adalah kondisi fisik Terauchi sendiri. Panglima tertinggi pasukan Jepang di Asia Tenggara itu sedang sakit. 

Beberapa bulan sebelumnya, tepatnya pada 10 Mei 1945, Terauchi terserang stroke ketika mendengar kabar bahwa Burma—salah satu wilayah kekuasaan Jepang—telah lepas dari tangan mereka. Stroke itu telah melumpuhkan sebagian tubuhnya, namun ia tetap memaksakan diri menjalankan tugas sebagai panglima. Dalam kondisi fisik yang ringsek, ia masih harus duduk di kursi kekuasaan yang nyaris runtuh.

Terauchi adalah putra dari Terauchi Masatake, seorang perwira marskal yang pernah menjadi Perdana Menteri Jepang. Ia sendiri adalah bangsawan—bergelar Count—yang telah mengabdikan seluruh hidupnya pada kejayaan militer Kekaisaran Jepang. Kini, di usianya yang ke-66, ia menyaksikan sendiri runtuhnya semua yang telah ia bangun.

Titik Nadir Kekaisaran
Pertemuan di Dalat pada 12 Agustus 1945 itu, dari sudut pandang Terauchi, bukanlah sebuah tindakan kemurahan hati. "Karena posisi Jepang berada di ujung tanduk, Marsekal Terauchi menjanjikan bahwa pihaknya memberikan kemerdekaan kepada Indonesia". Ini adalah strategi politik untuk menutupi kondisi Jepang yang kian terdesak.

Memasuki tahun 1945, kedudukan Jepang dalam Perang Asia Timur Raya telah terdesak oleh Sekutu. Namun Jepang masih menolak menyerah, hingga akhirnya bom atom dijatuhkan di Hiroshima pada 6 Agustus dan Nagasaki pada 9 Agustus. Terauchi sendiri memprediksi bahwa Jepang segera takluk kepada Sekutu.

Menjanjikan kemerdekaan kepada Indonesia adalah cara untuk menyelamatkan muka di tengah kehancuran yang tak terhindarkan. Dengan janji kemerdekaan, Jepang seolah menjamin bahwa mereka tetap memegang kendali atas proses politik di wilayah jajahannya, meskipun pada kenyataannya mereka sudah tidak lagi berdaya. Ini adalah manuver terakhir seorang jenderal yang kekalahannya sudah di depan mata.

Sebuah "Hadiah" yang Tak Lagi Bisa Ditahan
Meskipun secara resmi Tokyo telah memutuskan untuk memberikan kemerdekaan pada 24 Agustus, Terauchi—dalam kondisi sakit dan menyadari bahwa tak lama lagi ia dan pasukannya akan tunduk pada Sekutu—mengambil langkah yang lebih longgar. Ketika Soekarno bertanya apakah PPKI boleh mulai bekerja sekitar 25 Agustus, Terauchi menjawab dengan kata-kata yang kelak menjadi legenda:
"Terserah kepada tuan-tuan di Panitia Persiapan. Kapan saja boleh. Itu sudah menjadi urusan tuan-tuan."

Dengan menyerahkan sepenuhnya penentuan waktu kemerdekaan kepada para pemimpin Indonesia, Terauchi melakukan manuver diplomatis terakhir. Ini adalah pengakuan halus—mungkin bahkan tanpa ia sadari sepenuhnya—bahwa Jepang telah kehilangan kendali. Satu-satunya cara untuk meninggalkan Asia Tenggara dengan martabat adalah dengan memberikan "hadiah" terakhir: sebuah kemerdekaan yang sebenarnya sudah tidak bisa mereka tahan lagi.

Dalam buku autobiografi Soekarno yang disusun Cindy Adams, Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, pertemuan tersebut digambarkan berlangsung alot. Terauchi menjanjikan kemerdekaan Indonesia pada 24 Agustus, namun ia juga memberikan kelonggaran yang pada akhirnya memungkinkan Proklamasi 17 Agustus terjadi tanpa campur tangan Jepang.

Akhir Seorang Panglima
Nasib Terauchi setelah pertemuan Dalat adalah cermin dari runtuhnya kekaisaran yang ia wakili. Pada 12 September 1945, ketika upacara penyerahan resmi pasukan Jepang di Asia Tenggara digelar di Singapura, Terauchi tidak hadir. Jenderal Itagaki Seishiro menandatangani dokumen penyerahan atas namanya. Terauchi terlalu sakit untuk menghadiri penyerahan pasukannya sendiri.

Ia akhirnya menyerah secara pribadi kepada Lord Mountbatten pada 30 November 1945 di Saigon. Namun takdir masih belum selesai dengan Terauchi. Pada 12 Juni 1946, di sebuah kamp tawanan perang di Malaya, ia terserang stroke untuk kedua kalinya dan meninggal dunia.

Epilog: Akhir Sebuah Kekaisaran, Awal Sebuah Bangsa

Bagi Terauchi, Dalat adalah akhir dari sebuah kekaisaran—titik di mana ia, seorang panglima yang sakit dan negaranya yang sekarat, harus mengakui bahwa kendali telah lepas dari tangannya. Bagi Indonesia, Dalat adalah awal dari sebuah negara—momen ketika tiga pemimpin bangsa menerima mandat untuk menentukan nasib mereka sendiri.

Sejarawan M.C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern mencatat bahwa pertemuan di Dalat menjadi salah satu titik balik dalam proses kemerdekaan Indonesia. Janji Terauchi memberi legitimasi bagi para pemimpin Indonesia untuk bertindak, meskipun pada akhirnya mereka mengambil jalan yang berbeda dari yang disarankan Jepang.

Di kota perbukitan Dalat, di bawah langit Vietnam yang sejuk, seorang marskal yang sakit menyaksikan berakhirnya kekaisaran yang telah ia bangun seumur hidup. Dan di ruangan yang sama, tiga pemimpin dari negeri jajahan mendengar bisikan kemerdekaan—sebuah kemerdekaan yang bukan hadiah, melainkan hak yang harus mereka rebut sendiri.

Quote