Jakarta, Gesuri.id - Perancis membara. Sejak tiga minggu yang lalu, puluhan ribu pelajar sekolah menengah di Perancis mengamuk. Sekolah-sekolah tempat mereka belajar dibakar habis, dijarah, dan dirusak. Pelakunya mereka sendiri, sebagai bentuk protes. Mereka juga turun ke jalan, membawa poster, mengenakan balaclava, dan membuat barikade dari bak sampah. Barisan pelajar SMA berhadap-hadapan dengan polisi.
Alasannya tidak sulit dimengerti: mereka menuntut sistem sekolah mereka diperbaiki. Dari jam masuk sekolah yang terlalu panjang, fasilitas dan sarana prasarana yang tidak layak, hingga kualitas pengajaran yang kurang baik. Aturan baru mereka memang menuntut pelajar sekolah masuk dari pukul 7 pagi hingga 6 sore.
Hingga hari ini, Perancis masih begitu panas. Lebih dari 5000 orang ditahan oleh polisi. 4000 di antaranya adalah remaja. Mereka dituduh sebagai biang kerok kerusuhan dan ketidakamanan. Konflik bereskalasi dan meluas. Dalam taraf yang semakin politis. Banyak dari pelajar itu mulai menyalahkan Presiden Macron dan Perdana Menteri Sebastien Lecornu, juga sistem ide pemerintahannya. Mereka menuntut suatu henti penuh dalam sistem (radical break).
Belajar dari Paris
Di Eropa, opini publik terbelah. Ada banyak yang mendukung gerakan pelajar ini sebagai pintu masuk ke berbagai isu lain, misalnya soal meningkatnya biaya hidup. Tetapi banyak pula yang menuding kerusuhan pelajar ini sebagai ledakan bom waktu dari isu klasik soal banyaknya imigran di Perancis. Perspektif yang belakangan ini memang makin marak di seluruh Eropa, terutama sebagai bagian integral dari agenda politik sayap kanan.