UNTUK pertama kalinya dalam sejarah republik ini, sebuah kementerian yang baru lahir langsung memikul amanah besar: mengurus ibadah paling sakral bagi umat Islam. Tahun 2026 menjadi debut Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia (Kemenhaj) dalam mengelola Rukun Islam kelimaibadah yang bukan hanya soal logistik, tetapi tentang nyawa, air mata, dan doa jutaan manusia.
Kemenhaj tahu, tak ada ruang untuk main-main. Maka persiapan dilakukan dengan cara yang tak biasa. Salah satunya lewat Pendidikan dan Pelatihan Petugas Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi 2026sebuah tempaan keras yang melucuti ego berbagai latar belakang manusia dengan pangkat, jabatan, pengaruh dan endorsement menjadi penjaga keselamatan tamu-tamu Allah.
Lebih dari 1.600 calon petugas dikumpulkan di Asrama Haji Pondok Gede. Tempat itu meski berlokasi di asrama, namun panitia dan peserta didik sepakat menamakannya barak. Di sanalah kebebasan ditanggalkan. Kemerdekaan pribadi dicabut sementara. Tujuh belas jam setiap hari adalah pendidikan. Tidak ada jeda untuk manja, bahkan untuk mengeluh.
Bangun pukul empat pagi. Subuh di masjid, meski harus dipaksa karena ada barcode yang harus discan sebagai tanda presensi. Baris-berbaris untuk apel dan senam pagi dilanjutkan jalan sehat sebelum matahari terbit. Kegiatan terus mengalir dari kelas besar ke kelas tusi, daerah kerja (Daker) hingga sektor. Rutinitas itu berlangsung hingga malam menutup hari. Bahkan sebelum tidur, masih ada komando. Waktu terasa begitu sempitmeluruskan kaki saja harus mencuri kesempatan.
Hari-hari pertama adalah neraka kecil. Seperti diospek saat sekolah. Dongkol, capek, menyebalkan dan tentu mbosankan. Wajah Danki, Danton, dan para fasilitator terasa seperti wajah guru atau dosen killer. Ingin bolos, tapi mustahil dihindari karena alam bawah sadar para peserta didik sudah terbangun sejak kontrak belajar: barcode, barcode dan barcode. Bahkan untuk mengambil snakc dan ishoma ke kamar pun harus baris, rapi, dan memberi hormat.