Jakarta, Gesuri.id - Nusantara tidak pernah dibangun dalam semalam. Kemerdekaan Indonesia pun tidak ditebus dengan harga murah. Ia lahir dari rahim sejarah yang dipenuhi peluh, darah, dan air mata para pendahulu.
Di tengah gugusan belasan ribu pulau, dari rimbunnya hutan Sumatera hingga ufuk timur Papua, mengalir sebuah denyut nadi yang menyatukan setiap perbedaan menjadi satu entitas kebangsaan yang utuh. Denyut nadi itu bernama Pancasila.
Memperingati Hari Kesaktian Pancasila dengan tema Pancasila Pemersatu Bangsa Menuju Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur bukan sekadar ritual kalender kenegaraan yang dirayakan secara seremonial.
Peringatan ini semestinya menjadi momentum kontemplasi. Sebuah panggilan sejarah untuk memeriksa kembali detak jantung republik: apakah nadi Ibu Pertiwi masih berdenyut selaras dengan janji kemerdekaan, atau justru mengalami aritmia akibat pengkhianatan terhadap nilai-nilai luhur yang dikandung Pancasila?
Pancasila, Mutiara Abadi yang Tak Lekang oleh Zaman