Bandung, Gesuri.id Kehadiran puluhan kawasan industri megah di berbagai daerah kerap menyisakan ironi bagi warga sekitar. Putaran dana triliunan rupiah setiap hari dinilai belum mampu mengentaskan kemiskinan ekstrem di sekitar lokasi pabrik akibat minimnya kontribusi sosial perusahaan yang selama ini kerap bersifat seremonial dan sesaat.
Sorotan tajam ini disampaikan oleh Anggota Komisi VII DPR RI, Bane Raja Manalu, usai meninjau sejumlah kawasan industri di wilayah Banten, Jawa Barat, hingga Jawa Tengah. Melalui temuan Panitia Kerja (Panja) Rancangan Undang-Undang (RUU) Kawasan Industri, terungkap sejumlah benang kusut yang belum terurai, mulai dari masalah tumpang tindih lahan, krisis pasokan energi, hingga rendahnya tingkat penyerapan tenaga kerja lokal.
Baca:Kisah Unik Ganjar Pranowo di Masa Kecilnya untuk Membantu Ibu
Dalam kunjungannya ke Kabupaten Karawang, Senin (5/10/2026), Bane secara khusus menyoroti masalah keandalan pasokan energi seperti listrik dan gas yang masih kerap bermasalah. Pemadaman listrik mendadak yang bisa berlangsung hingga tiga sampai lima jam dinilai sangat merugikan dunia usaha karena memicu pembengkakan biaya operasional.
Bagaimana kawasan industri bisa berjalan baik jika energinya tidak siap? Listrik sudah mahal, tapi masih sering biarpet hingga beberapa jam. Jika ini terjadi, industri jelas terganggu dan beban biaya operasional mereka membengkak, ujar Bane.