Jakarta, Gesuri.id - Pengamat SosialHizkia Darmayanamenegaskan perundungan yang dialami anak-anak pengikut Padepokan Saung Taraju Jumantara (STJ) di Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, merupakan bukti nyata bahwa semangat Bhinneka Tunggal Ika sedang dinistakan di ruang sosial masyarakat, termasuk di lingkungan pendidikan.
Pernyataan itu disampaikan menyusul catatanLembaga Bantuan Hukum Bandungmengenai adanya intimidasi dan perundungan terhadap keluarga serta anak-anak pengikut STJ pasca insiden pembakaran padepokan tersebut beberapa waktu lalu.
Menurut Hizkia, sekolah seharusnya menjadi ruang aman bagi seluruh anak tanpa memandang latar belakang keyakinan, budaya, maupun identitas komunitasnya. Namun, ketika anak-anak menjadi sasaran ejekan, pengucilan, hingga tekanan sosial hanya karena orang tua mereka berasal dari kelompok tertentu, maka hal itu menunjukkan kegagalan masyarakat dalam mempraktikkan nilai keberagaman yang menjadi fondasi bangsa Indonesia.
Bhinneka Tunggal Ika bukan sekadar slogan di lambang negara. Ketika anak-anak dirundung karena identitas komunitas keluarganya, itu adalah bentuk penistaan terhadap semangat kebangsaan kita sendiri. Negara tidak boleh diam, tegas Hizkia dalam keterangannya, Minggu (10/5/2026).
Tenaga Ahli Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPR RI itu menjelaskan, dalam perspektif antropologi, keberagaman keyakinan dan praktik budaya merupakan realitas sosial yang melekat dalam masyarakat Indonesia sejak lama. Ia merujuk pandangan antropolog Koentjaraningratyang menegaskan bahwa kebudayaan dan sistem kepercayaan lokal merupakan bagian integral dari kehidupan sosial masyarakat Indonesia yang majemuk.