Jakarta, Gesuri.id - Ketua DPR RI Puan Maharani menyoroti meningkatnya tekanan sosial di balik maraknya kecurangan dalam pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK SNBT) 2026 yang dimulai sejak Selasa (21/4/2026).
Ia menilai fenomena tersebut bukan sekadar persoalan teknis pengawasan, melainkan cerminan dari dinamika yang lebih dalam dalam sistem pendidikan nasional.
Pola berulang dengan teknik yang semakin kompleks menunjukkan bahwa tekanan kompetisi pendidikan hari ini telah berkembang dalam bentuk yang menuntut perhatian lebih serius, kata Puan, dikutip Sabtu (25/4/2026).
Diketahui, berbagai modus kecurangan ditemukan dalam pelaksanaan UTBK 2026, mulai dari penggunaan joki dengan identitas palsu seperti KTP dan ijazah, alat komunikasi tersembunyi di telinga, hingga taktik pura-pura terlambat agar panitia lengah. Bahkan, panitia menemukan anomali data sebanyak 2.640 peserta yang terindikasi melakukan kecurangan serta adanya dugaan sindikat joki yang terancam sanksi pidana.
Di sinilah penting bagi negara untuk membaca bahwa kecurangan bukan persoalan teknis pengawasan ujian saja. Namun, berkaitan pula dengan cara ekosistem pendidikan membentuk persepsi tentang nilai usaha, kegagalan, dan kompetisi, jelas Puan.