Jakarta, Gesuri.id - Kader PDI Perjuangan yang juga Pengamat sosial, Hizkia Darmayana, menilai polemik yang muncul akibat beredarnya potongan video ceramahJusuf Kallatentang ajaran Kristen harus menjadi pelajaran penting bagi semua pihak untuk lebih berhati-hati dalam menyampaikan pernyataan terkait agama, terutama agama yang tidak dianutnya.
Polemik tersebut mencuat setelah video ceramah yang disampaikan di Universitas Gadjah Mada dipotong dan disebarluaskan di media sosial, sehingga memunculkan tuduhan penistaan agama. Padahal, klarifikasi dari pihak terkait menyebutkan bahwa pernyataan tersebut berada dalam konteks penjelasan konflik sosial bernuansa agama di Poso dan Ambon, bukan membahas ajaran teologis suatu agama.
Hizkia menegaskan bahwa fenomena ini menunjukkan bagaimana distorsi informasi di ruang digital dapat memicu kesalahpahaman publik dan konflik horizontal. Dalam perspektif teori komunikasi, hal ini sejalan dengan konsepframing effectdanselective exposure, di mana potongan informasi yang tidak utuh dapat membentuk persepsi yang bias di masyarakat.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa berbicara tentang ajaran agama lain memerlukan kehati-hatian ekstra. Tanpa pemahaman yang utuh, pernyataan tersebut sangat rentan disalahartikan dan berpotensi menimbulkan konflik sosial, ujar Hizkia, Senin (13/4/2026).
Lebih lanjut, Tenaga Ahli Anggota Fraksi PDI Perjuangan DPR itu mengaitkan fenomena ini dengan teori konflik sosial dari Lewis A. Coser yang menyebut bahwa konflik dapat muncul bukan hanya karena perbedaan kepentingan, tetapi juga akibat kesalahpahaman simbolik, termasuk dalam hal nilai dan keyakinan.