Pengangguran Terdidik, Nyoman Parta Heran Biaya Besar Untuk Jadi Sarjana Tapi Lapangan Kerja Tidak Ada

Mengapa negara dan keluarga mengeluarkan biaya besar untuk menghasilkan sarjana?
Sabtu, 22 Agustus 2026 22:01 WIB Jurnalis - Syahrul Arsyad

Jakarta, Gesuri.id - Anggota DPR RI Dapil Bali, I Nyoman Parta, menyoroti persoalan pengangguran terdidik di tengah momentum peringatan 81 tahun Kemerdekaan Republik Indonesia. Ia menilai tingginya jumlah sarjana yang belum terserap dunia kerja merupakan persoalan struktural ekonomi dan pendidikan, bukan sekadar masalah individu pencari kerja.

Di satu sisi, tentu ini kabar baik. Jepang membutuhkan tenaga kerja, sementara Indonesia memiliki angkatan kerja yang besar. Kesempatan itu harus kita manfaatkan. Tetapi di sisi lain, saya justru melihat sebuah pertanyaan yang lebih mendasar. Mengapa negara dan keluarga mengeluarkan biaya besar untuk menghasilkan sarjana, tetapi setelah mereka lulus, perekonomian kita belum mampu menyediakan cukup banyak pekerjaan yang sesuai dengan kompetensi mereka? kata Nyoman Parta, dikutip Jumat(21/8/2026).

Nyoman Parta menyoroti data Badan Pusat Statistik (BPS) Mei 2026 yang mencatat jumlah pengangguran Indonesia sekitar 7,22 juta orang. Dari jumlah tersebut, sekitar 1,03 juta merupakan lulusan pendidikan tinggi dari jenjang D4 hingga S3.

Menurutnya, angka tersebut menunjukkan persoalan serius karena lebih dari satu juta orang yang telah menempuh pendidikan tinggi belum memperoleh pekerjaan.

Pada saat yang hampir bersamaan, Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Stella Christie mengungkapkan adanya peluang sekitar 100 ribu warga Indonesia setiap tahun untuk bekerja di Jepang. Pemerintah pun menyiapkan satuan tugas dan melibatkan pusat karier atau career center perguruan tinggi untuk mempersiapkan calon pekerja.

Baca juga :