Peringkat Daya Saing Industri Anjlok ke Posisi 40, Novita Desak Pemerintah Harus Cepat Bertindak

Ada beberapa bahan baku yang notabene sudah mampu diproduksi di dalam negeri
Sabtu, 30 Agustus 2025 09:48 WIB Jurnalis - Nurfahmi Budi Prasetyo

Surabaya, Gesuri.id - Anggota Komisi VII DPR RI, Novita Hardini, menyoroti berbagai tantangan yang menghambat kemajuan industri nasional, mulai dari masalah impor bahan baku hingga ketidakpastian kebijakan pemerintah. Menurut Novita, beberapa kendala ini berpotensi mengancam daya saing industri dalam negeri dan bahkan membuat peringkat daya saing Indonesia merosot tajam.

Ditemui Parlementaria usai melakukan kunjungan kerja spesifik Panja Daya Saing Industri Komisi VII DPR RI ke CV Sinar Baja Electric, Novita menjelaskan bahwa salah satu masalah utama yang dihadapi oleh produsen pengeras suara terbesar di Indonesia ini adalah importasi bahan baku.

Ada beberapa bahan baku yang notabene sudah mampu diproduksi di dalam negeri, tapi ada beberapa bahan baku yang tidak bisa diproduksi di dalam negeri, ujarnya. Ia mencontohkan, bahan baku seperti tanah jarang (rare earth) dan beberapa bahan untuk kertas masih harus diimpor dari Kanada.

Novita menambahkan bahwa harga barang impor yang fluktuatif akibat persaingan ekonomi global menjadi beban berat bagi perusahaan. Harga barang impor ini sangat fluktuatif mengingat persaingan ekonomi global kita hari ini yang tentu dapat menekan margin dari perusahaan ini, katanya di Surabaya, Jawa Timur, Kamis (28/8/2025).

Politisi Fraksi PDI-Perjuangan ini menekankan bahwa gabungan dari beberapa faktor, seperti harga impor yang fluktuatif, ketidakpastian pasar domestik, dan kebijakan pemerintah yang sering berubah-ubah, telah memberikan hantaman besar bagi industri nasional. Bahkan data terbaru menunjukkan bahwa peringkat daya saing industri Indonesia anjlok dari peringkat 13 menjadi 40. Ini hantaman besar bagi pemerintah kita, bagi Republik Indonesia, tegasnya.

Baca juga :