Jakarta, Gesuri.id - Wakil Gubernur Kalimantan Barat Krisantus Kurniawan menegaskan seluruh unsur penanggulangan bencana harus meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama memasuki puncak musim kemarau pada Agustus 2026. Pemerintah daerah diminta bergerak cepat agar setiap titik api dapat segera dipadamkan sebelum meluas.
Terjadi peningkatan titik panas di sejumlah wilayah, terutama di Kabupaten Ketapang. Kondisi ini mengharuskan seluruh jajaran bergerak cepat tanpa penundaan agar titik api tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas, kata Krisantus.
Krisantus menyampaikan hal tersebut saat mengikuti Rapat Koordinasi Pengendalian Karhutla bersama Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto di Posko Utama Karhutla Lanud Supadio, Kabupaten Kubu Raya, Kamis (6/8/2026) malam.
Menurut Krisantus, periode rawan karhutla di Kalimantan Barat berlangsung pada Juli hingga Oktober, dengan puncak kerawanan diperkirakan terjadi sepanjang Agustus. Karena itu, seluruh unsur terkait diminta meningkatkan kesiapsiagaan dan mempercepat respons di wilayah yang terdeteksi memiliki titik panas.
Ia menjelaskan, penanganan karhutla di Kalbar memiliki tantangan tersendiri karena sebagian besar wilayah berupa hutan dan lahan gambut. Kebakaran di lahan gambut tidak hanya membakar permukaan, tetapi juga dapat merambat ke lapisan bawah tanah sehingga menghasilkan asap pekat yang sulit dipadamkan dan berdampak terhadap kesehatan masyarakat.