Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi IV DPR RI yang juga Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Rokhmin Dahuri, menyoroti keterbatasan armada tangkap sebagai salah satu faktor utama yang menghambat peningkatan ekspor produk olahan laut Indonesia ke pasar Jepang, di tengah besarnya potensi kelautan nasional.
Hanya sekitar 0,6 persen kapal perikanan yang dimiliki oleh Indonesia dengan ukuran 30 Gross Tonnage (GT), sehingga menyebabkan 90 persen nelayan di Indonesia hanya mampu melaut di pinggiran pantai, kata Rokhmin Dahuri, dikutip Jumat(1/5/2026).
Pemerintah Indonesia sendiri tengah berupaya memacu volume ekspor produk olahan laut ke Jepang guna memperkecil ketimpangan antara luas wilayah laut dengan nilai perdagangan.
Dengan luas laut mencapai 6,4 juta km, Indonesia dinilai belum mampu memaksimalkan potensi tersebut dalam kinerja ekspor, bahkan masih tertahan di posisi keempat sebagai eksportir ke Negeri Sakura.
Berdasarkan data Observatory of Economic Complexity, nilai impor produk olahan laut Jepang mencapai 1,69 miliar USD pada tahun 2023. Angka ini menempatkan Jepang sebagai salah satu importir terbesar dunia, hanya berada di bawah Amerika Serikat yang mencatatkan nilai impor sebesar 2,09 miliar USD.