Jakarta, Gesuri.id - Di Rengasdengklok, para pemuda melingkariku dengan senjata di tangan, tetapi aku berkata kepada mereka: Aku tidak dapat dipaksa untuk melakukan sesuatu di bawah ancaman laras senapan. Seorang pemimpin tidak boleh bertindak karena ketakutan, melainkan karena kewajiban kepada rakyatnya. Ketika kami akhirnya kembali ke Jakarta malam itu dan duduk di meja makan Laksamana Maeda, dengan selembar kertas bergaris, aku mengambil pena dan menuliskan kata-kata yang telah lama bergelora di dalam dadaku.
Bung Karno, dalam Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
Penjabaran dari sikap Bung Karno pada 16 Agustus ini menunjukkan betapa ia memegang teguh kalkulasi kepemimpinan.
Bung Karno menjelaskan kepada para pemuda di Rengasdengklok bahwa proklamasi yang dikeluarkan akibat paksaan senjata pemuda akan kehilangan bobot kewibawaan nasional dan berisiko memicu respons militer yang mematikan dari tentara Jepang.
Tanggal 16 Agustus 1945 memang mencatatkan pergolakan paling dramatis dalam sejarah kemerdekaan Indonesia, dimana Bung Karno menjadi pusat dari peristiwa penculikan politik paling menentukan yang dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.