Jakarta, Gesuri.id - Anggota Komisi IV DPR RI, yang juga Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, M.S., mengajak umat Islam memaknai kemerdekaan Indonesia secara lebih mendalam, bukan sekadar terbebas dari penjajahan, tetapi sebagai momentum untuk membebaskan diri dari segala bentuk penghambaan kepada selain Allah SWT.
“Pertama, kita harus senantiasa bersyukur kepada Allah atas nikmat kemerdekaan yang telah kita rasakan,” kata Prof Rokhmin, dikutip pada Jumat (14/8/2026).
Dalam tausiyahnya, Prof Rokhmin menyampaikan tiga langkah utama yang perlu dilakukan umat Islam dalam memaknai HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia sebagai wujud rasa syukur. Langkah pertama adalah senantiasa bersyukur atas nikmat kemerdekaan yang telah diberikan Allah SWT.
Ia mengutip janji Allah dalam Al-Qur’an bahwa barang siapa yang bersyukur, maka Allah akan menambah nikmatnya. Menurut Prof Rokhmin, kemerdekaan merupakan salah satu anugerah terbesar Allah SWT setelah nikmat iman dan Islam sehingga harus dijaga dan diisi dengan berbagai kegiatan positif.
Dalam perspektif Islam, kemerdekaan dimaknai sebagai kondisi ketika seorang hamba bebas menjalankan ketaatan kepada Allah Ta'ala tanpa adanya penghalang. Merdeka juga berarti tidak adanya sekat antara seorang Muslim dengan surga Allah.
Langkah kedua adalah melakukan muhasabah atau introspeksi diri. Prof Rokhmin mengajak umat untuk merenungkan berbagai hal yang telah dilakukan, baik yang perlu dipertahankan maupun keburukan yang harus ditinggalkan.
“Mari kita lakukan muhasabah atau introspeksi diri. Renungkan mana hal baik yang perlu kita lanjutkan dan mana keburukan yang harus kita tinggalkan. Kemerdekaan bukan hanya soal lepas dari penjajahan fisik, tetapi juga upaya terus-menerus memperbaiki diri,” tegasnya.
Menurut Prof Rokhmin, konsep tersebut sejalan dengan hakikat kemerdekaan dalam Islam, yakni membebaskan diri dari penghambaan kepada selain Allah SWT atau dari berbagai bentuk perbudakan spiritual. Kemerdekaan sejati merupakan kemampuan manusia memerdekakan dirinya dari segala bentuk penghambaan selain kepada Allah, kemudian menjadikannya sebagai jalan untuk menegakkan keadilan dan kesejahteraan.
Langkah ketiga yang ditekankan Prof Rokhmin adalah meningkatkan iman dan takwa secara kaffah. Menurutnya, peningkatan ketakwaan tidak hanya berkaitan dengan hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga hubungan dengan sesama manusia.
“Ketiga, iman dan taqwa harus selalu kita tingkatkan, bukan hanya dalam hubungan kita dengan Allah, tapi juga dengan sesama manusia. Berbagi, tolong-menolong, dan menjaga harmoni dalam masyarakat adalah bagian dari bentuk taqwa yang sejati,” ujar anggota DPR RI periode 2024-2029 itu.
Prof Rokhmin menjelaskan, ketakwaan tidak berhenti pada *hablumminallah* atau hubungan manusia dengan Allah SWT, tetapi juga harus diwujudkan melalui *hablumminannas* atau hubungan dengan sesama manusia.
Menurutnya, ketakwaan juga tercermin dari perilaku sehari-hari, seperti tidak berbohong, tidak malas, menguasai sains dan teknologi, serta menjaga daya dukung lingkungan.
Dalam tausiyah terpisah, Prof Rokhmin menegaskan bahwa kunci untuk menjadikan Indonesia sebagai negara Baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur terdapat di dalam Al-Qur’an.
Ia menyitir QS. Al-A’raf ayat 96: “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi...”
“Jurus jitu memakmurkan, memajukan dan membuat Indonesia menjadi negara adil dan makmur atau Baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur, kuncinya ada di Alquran,” katanya.
Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) tersebut juga menegaskan bahwa Pancasila sebagai paradigma pembangunan memiliki keselarasan dengan ajaran Islam.
Ia menjelaskan terdapat tiga dimensi world-view Islam dalam pembangunan berkelanjutan, yakni tauhid, khalifah, dan adil. Tauhid memberikan makna terhadap eksistensi alam semesta, khalifah bermakna manusia sebagai pemelihara bumi dan bukan perusak, sedangkan adil berarti pengelolaan sumber daya alam sebagai modal untuk mencapai falah atau kemakmuran.
“Tanpa keadilan (adil terhadap manusia maupun alam), falah tidak akan pernah . tercapai,” tandasnya.
Prof Rokhmin menambahkan, Islam juga mengajarkan umat untuk menjalani kehidupan secara sederhana, tidak boros, tidak membuang air meski saat wudhu, tidak menumpuk harta secara haram, wajib berbagi kepada fakir miskin, serta senantiasa berlaku jujur dan rahmatan lil alamin.
Menteri Kelautan dan Perikanan 2001-2004 itu berharap momentum kemerdekaan dapat mendorong setiap Muslim untuk menjadi pribadi yang lebih baik sekaligus memberikan kontribusi nyata bagi bangsa.
“Dengan melaksanakan ketiga hal ini, semoga kita bisa mengisi kemerdekaan dengan lebih bermakna, dan menjadi pribadi yang lebih baik dalam segala aspek kehidupan serta menggapai sukses dan bahagia di dunia maupun Akhirat. Selain itu, kita pun dapat berkontribusi signifikan dalam mewujudkan Indonesia emas 2045.”

















































































