Jakarta, Gesuri.id - Wakil Ketua Komisi II DPR RI Aria Bima menilai Lebaran bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan momentum refleksi mendalam yang sarat makna spiritual, budaya, dan kemanusiaan bagi masyarakat Indonesia, khususnya dalam tradisi Jawa.
Lebaran selalu datang sebagai peristiwa yang sederhana tetapi maknanya begitu mendalam bagi kehidupan kita. Setahun sekali kita berhenti sejenak dari hiruk pikuk kehidupan Lalu menoleh ke dalam diri, menata kembali hati Dan mengingat apa arti menjadi manusia bagi sesama bagi kita orang Jawa, Lebaran bukan sekedar menutup ibadah puasa Ramadan Lebaran adalah peristiwa batin, peristiwa budaya, dan peristiwa kemanusiaan, ujar Aria Bima, dikutip Kamis(26/3/2026).
Ia menjelaskan bahwa dalam tradisi Jawa, Idulfitri kerap disebut sebagai bakdo, yang memiliki akar kata dari bahasa Arab bakdak yang berarti sesudah. Makna ini menggambarkan fase setelah umat Muslim menjalani berbagai proses spiritual selama Ramadan.
Dalam bahasa Jawa, idul fitri sering disebut bakdo Dari kata Arab bakdak yang berarti sesudah Sesudah kita menjalani laku puasa, sesudah kita menahan diri Sesudah kita melatih kesabaran, dan sesudah kita belajar menjadi manusia yang lebih jernih Serta lebih peka kepada sesama, lanjutnya.
Lebih jauh, Aria Bima menekankan bahwa dalam perspektif budaya Jawa, makna Lebaran tidak berhenti pada selesainya ibadah puasa. Kata lebaran juga mengandung filosofi yang lebih luas, yakni keterbukaan hati dan kelapangan jiwa dalam memaafkan.