MENJELANG 28 Oktober 2026, kita kembali mengingat sebuah ruang yang pernah menentukan sejarah. Malam itu, Gedung Katholieke Jongelingen Bond atau KJB yang berada di kompleks Gereja Katedral Jakarta, menjadi panggung pembuka Kongres Pemuda II.
Di Gedung KJB yang sekarang kita lihat posisinya berseberangan dengan Masjid Istiqlal tersebut, para pemuda berkumpul membawa latar berbeda. Mereka datang membawa identitas daerah, organisasi, keyakinan, dan pengalaman masing-masing.
Di bawah kepemimpinan Soegondo Djojopoespito, rapat pertama kongres dimulai. Usianya muda, tetapi tanggung jawab sejarah yang dipikulnya tidak kecil.
KJB menjadi ruang perjumpaan yang mempertemukan berbagai organisasi pemuda. Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Ambon, Jong Batak, dan lainnya hadir.
Ada pula Jong Islamieten Bond, Jong Celebes, serta Pemuda Kaum Betawi. Mereka tidak datang untuk menghapus identitas yang telah melekat sebelumnya.