Kramat 106: Rumah Kos yang Menjadi Ruang Lahirnya Indonesia

Kramat 106 juga memperlihatkan bahwa sejarah Indonesia tidak dibangun oleh satu kelompok saja. Pemilik bangunannya adalah Sie Kong Lian
Selasa, 20 Oktober 2026 20:09 WIB Jurnalis - Nurfahmi Budi Prasetyo

ADA bangunan di Jakarta yang tampak sederhana, tetapi menyimpan cerita luar biasa besar. Di Jalan Kramat Raya No. 106, Jakarta Pusat, sebuah rumah yang dahulu digunakan sebagai tempat indekos pernah menjadi ruang bertemunya anak-anak muda yang sedang membayangkan masa depan sebuah bangsa.

Bangunan itu kini dikenal sebagai Museum Sumpah Pemuda. Namun jauh sebelum menjadi museum, tempat tersebut merupakan rumah milik seorang keturunan Tionghoa bernama Sie Kong Lian, yang menyewakan bangunannya kepada para pelajar dan organisasi pergerakan.

Pada masa itu, Kramat 106 bukanlah gedung monumental seperti yang biasa dibayangkan sebagai tempat lahirnya sejarah. Ia lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari para pelajar: tempat tinggal, tempat belajar, tempat berkumpul, dan ruang bertukar pikiran.

Sejumlah pelajar dari berbagai daerah pernah tinggal atau beraktivitas di tempat tersebut. Mereka membawa latar belakang organisasi, daerah, budaya, dan pemikiran yang berbeda, tetapi menemukan satu kebutuhan yang sama: sebuah ruang untuk berbicara tentang masa depan.

Dari kebutuhan itulah Kramat 106 berkembang menjadi Indonesische Clubgebouw. Bangunan tersebut kemudian digunakan sebagai tempat rapat dan kegiatan organisasi pergerakan pemuda, termasuk Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI).

Baca juga :