Ikuti Kami

Kramat 106: Rumah Kos yang Menjadi Ruang Lahirnya Indonesia

Kramat 106 juga memperlihatkan bahwa sejarah Indonesia tidak dibangun oleh satu kelompok saja. Pemilik bangunannya adalah Sie Kong Lian

Kramat 106: Rumah Kos yang Menjadi Ruang Lahirnya Indonesia
Gedung Sumpah Pemuda tempo dulu & sekarang - Foto: Kompas.com & Istimewa

ADA bangunan di Jakarta yang tampak sederhana, tetapi menyimpan cerita luar biasa besar. Di Jalan Kramat Raya No. 106, Jakarta Pusat, sebuah rumah yang dahulu digunakan sebagai tempat indekos pernah menjadi ruang bertemunya anak-anak muda yang sedang membayangkan masa depan sebuah bangsa.

Bangunan itu kini dikenal sebagai Museum Sumpah Pemuda. Namun jauh sebelum menjadi museum, tempat tersebut merupakan rumah milik seorang keturunan Tionghoa bernama Sie Kong Lian, yang menyewakan bangunannya kepada para pelajar dan organisasi pergerakan.

Pada masa itu, Kramat 106 bukanlah gedung monumental seperti yang biasa dibayangkan sebagai tempat lahirnya sejarah. Ia lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari para pelajar: tempat tinggal, tempat belajar, tempat berkumpul, dan ruang bertukar pikiran.

Sejumlah pelajar dari berbagai daerah pernah tinggal atau beraktivitas di tempat tersebut. Mereka membawa latar belakang organisasi, daerah, budaya, dan pemikiran yang berbeda, tetapi menemukan satu kebutuhan yang sama: sebuah ruang untuk berbicara tentang masa depan.

Dari kebutuhan itulah Kramat 106 berkembang menjadi Indonesische Clubgebouw. Bangunan tersebut kemudian digunakan sebagai tempat rapat dan kegiatan organisasi pergerakan pemuda, termasuk Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI).

Di tempat seperti inilah gagasan besar biasanya tumbuh. Bukan melalui kemewahan fasilitas, melainkan melalui percakapan panjang, perdebatan, pembacaan buku, pertukaran gagasan, dan keberanian anak-anak muda mempertanyakan keadaan zamannya.

Kramat 106 juga memperlihatkan bahwa sejarah Indonesia tidak dibangun oleh satu kelompok saja. Pemilik bangunannya adalah Sie Kong Lian, seorang keturunan Tionghoa, sementara para penghuninya berasal dari beragam latar belakang daerah dan organisasi.

Kisah tersebut penting untuk dibaca kembali. Sebab Indonesia sejak awal bukan proyek satu suku, satu agama, satu daerah, atau satu golongan, melainkan hasil perjumpaan berbagai unsur masyarakat yang menemukan kepentingan bersama.

Pada Oktober 1928, ruang sederhana itu mendapatkan tempat istimewa dalam perjalanan sejarah bangsa. Kramat 106 menjadi lokasi rapat ketiga Kongres Pemuda II sekaligus tempat penutupan kongres pada 28 Oktober 1928.

Sebelumnya, para pemuda telah menggelar dua rapat di lokasi berbeda. Rapat pertama berlangsung di Gedung Katholieke Jongenlingen Bond, sedangkan rapat kedua digelar di Oost-Java Bioscoop. Rapat ketiga kemudian berlangsung di Indonesische Clubgebouw, Kramat 106.

Di rapat terakhir itulah pembicaraan mengenai persatuan semakin mengerucut. Para pemuda tidak lagi sekadar berbicara tentang organisasi masing-masing, tetapi mengenai identitas yang lebih besar: tanah air dan bangsa Indonesia.

Suasana semakin istimewa ketika W.R. Soepratman memperdengarkan lagu Indonesia Raya secara instrumental dengan biola. Dalam situasi kolonial yang ketat, pilihan memainkan lagu tanpa lirik menjadi cara untuk memperdengarkan gagasan kebangsaan tanpa menghadirkan risiko yang lebih besar bagi jalannya kongres.

Setelah itu, kongres mencapai puncaknya melalui pembacaan putusan yang kemudian dikenal sebagai Sumpah Pemuda. Tiga gagasan besar dirumuskan: satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa persatuan.

Momen tersebut menunjukkan bahwa fasilitas sederhana tidak pernah menjadi ukuran besarnya sebuah gagasan. Kramat 106 tidak memiliki teknologi komunikasi seperti sekarang, tetapi dari ruangan itulah gagasan persatuan mampu melampaui batas ruang dan zaman.

Pelajaran itu terasa semakin dekat dengan kehidupan Gen Z. Hari ini, sebuah kamar tidur bisa berubah menjadi studio podcast, ruang diskusi, kantor kreatif, atau pusat produksi konten hanya dengan laptop dan telepon pintar.

Persoalannya bukan lagi apakah anak muda memiliki fasilitas. Pertanyaan yang lebih penting adalah apa yang hendak dilakukan dengan fasilitas yang tersedia. Apakah teknologi hanya digunakan untuk mengejar perhatian, atau dapat menjadi sarana membangun gagasan, pengetahuan, solidaritas, dan perubahan sosial?

Kramat 106 juga memberikan pelajaran tentang politik. Politik yang sehat tidak semata-mata berbicara mengenai perebutan suara dan kekuasaan, tetapi juga tentang gagasan yang mampu menghubungkan kepentingan banyak orang.

Generasi muda boleh berbeda pilihan politik. Mereka boleh mendukung partai, calon, atau gagasan yang berbeda. Namun, seperti generasi 1928, perbedaan seharusnya tidak menghilangkan kemampuan untuk duduk bersama dan membicarakan kepentingan yang lebih besar.

Di tengah politik digital yang bergerak sangat cepat, ruang seperti Kramat 106 mengingatkan pentingnya memperlambat diri untuk berpikir. Sebelum mengunggah pendapat, membaca informasi, memihak, atau menyebarkan kritik, anak muda membutuhkan ruang untuk memeriksa fakta dan mendengar pandangan yang berbeda.

Karena itu, nilai Sumpah Pemuda tidak berhenti pada tiga kalimat yang dibacakan pada 28 Oktober 1928. Nilainya juga terdapat pada proses yang mendahuluinya: bertemu, berdiskusi, berbeda pendapat, mencari titik temu, dan kemudian bersepakat tentang sesuatu yang lebih besar daripada kepentingan kelompok.

Kini Kramat 106 telah berubah menjadi Museum Sumpah Pemuda. Bangunannya menjadi pengingat bahwa sebuah rumah kos sederhana pernah menjadi tempat anak-anak muda menyusun imajinasi tentang Indonesia yang belum mereka miliki sebagai sebuah negara.

Dari sana kita belajar bahwa perubahan tidak selalu membutuhkan gedung besar, anggaran besar, atau fasilitas yang sempurna. Kadang-kadang, yang dibutuhkan hanyalah ruang yang cukup untuk bertemu, gagasan yang cukup kuat untuk diperjuangkan, dan sekelompok anak muda yang percaya bahwa masa depan dapat dibuat berbeda.

Kramat 106 akhirnya bukan sekadar alamat sejarah. Ia adalah pengingat bahwa Indonesia pernah dibayangkan dari sebuah ruang sederhana—dan bahwa generasi muda hari ini pun masih memiliki kesempatan menciptakan ruang-ruang baru untuk melahirkan gagasan besar bagi masa depan bangsa.

Ikuti rangkaian publikasi Sumpah Pemuda ini dan sambut Merah Muda Fest pada 25 Oktober 2026. Mari lanjutkan semangat Sumpah Pemuda dengan menjadi bagian dari Millennium Public Pulse 28 pada 28 Oktober 2028. Informasi lebih lanjut mengenai acara dapat diakses melalui merahmudafest.com.

Quote