Soepratman, Amir, dan Mereka yang Menjahit Persatuan

Nasionalisme tidak selalu lahir dari podium politik; terkadang ia tumbuh dari seni yang mampu menyentuh perasaan
Senin, 19 Oktober 2026 18:58 WIB Jurnalis - Nurfahmi Budi Prasetyo

MALAM 28 Oktober 1928 menyimpan sebuah adegan yang sulit dilupakan. Di tengah suasana Kongres Pemuda II, sebuah biola dimainkan dan untuk pertama kalinya Indonesia Raya diperdengarkan di hadapan para peserta.

Yang menggesek biola itu adalah Wage Rudolf Soepratman. Ia tidak membawa pidato panjang, tidak berdiri sebagai pemimpin organisasi, dan tidak memegang jabatan dalam kepanitiaan kongres.

Namun, beberapa menit permainan biolanya mampu mengubah suasana ruangan. Musik tiba-tiba menjadi bahasa yang menyatukan perasaan para pemuda yang datang dari berbagai organisasi dan latar daerah.

Museum Sumpah Pemuda mencatat, lagu Indonesia Raya diperdengarkan W.R. Soepratman sebelum pembacaan putusan Kongres Pemuda II. Para peserta bahkan meminta lagu tersebut dimainkan kembali, tetapi Soepratman hanya memperdengarkannya sekali. Muspada

Adegan itu memperlihatkan sesuatu yang penting dalam perjalanan bangsa. Nasionalisme tidak selalu lahir dari podium politik; terkadang ia tumbuh dari seni yang mampu menyentuh perasaan sebelum pikiran sempat menyusun argumen.

Baca juga :